Tampilkan postingan dengan label Haryono Suyono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haryono Suyono. Tampilkan semua postingan

Setiap Anak Bangsa Wajib Sekolah

Selasa (23/7) besok, kita memperingati Hari Anak Nasional 2013. Dalam suasana seperti itu, kita patut berbangga bahwa di beberapa kabupaten/kota mulai dicanangkan program Wajib Belajar sampai 12 Tahun. Artinya, pemerintah daerah memberikan dukungan yang penuh kepada semua anak usia SD, SMP sampai SMA untuk bersekolah. Pemerintah daerah menjamin bahwa setiap anak usia sekolah akan memperoleh kesempatan untuk bersekolah.
Namun, justru pada kesempatan Hari Anak Nasional ini, kita patut merenung apakah semua anak usia sekolah sudah bersekolah. Tidak mustahil bupati atau walikota yang mencanangkan program Wajib Belajar 12 Tahun itu terkecoh oleh membeludaknya sekolah-sekolah yang ada di daerahnya. Tetapi, di pedesaan atau perkampungan bisa saja masih ada anak usia sekolah SD dan SMP yang tidak atau belum bersekolah karena miskin atau alasan lainnya.
Ada banyak alasan untuk waspada. Menurut laporan PBB, indeks sekolah di Indonesia belum mencapai standar yang menggembirakan. Bisa saja kita berdalih bahwa angka statistik di Tanah Air belum sempurna sehingga pengukuran yang dilakukan kantor BPS milik pemerintah belum mencerminkan keadaan sesungguhnya. Tetapi, ada juga kemungkinan bahwa di beberapa kota atau kabupaten, keadaan pendidikan belum merata, ada daerah yang masih memerlukan dorongan dan dukungan untuk menolong anak-anak usia sekolah agar bisa bersekolah.
Ada juga kasus-kasus tertentu di kota atau di ibu kota kabupaten, kondisi sekolah begitu bagusnya dibanding sekolah yang ada di desa-desa lainnya. Karena itu, banyak keluarga mampu mengirim anaknya ke sekolah yang baik itu, sehingga anak-anak yang nilainya pas-pasan, tidak memenuhi syarat masuk ke sekolah tersebut, tidak bisa sekolah di sekolah yang ada di kotanya. Orangtua yang kaya bisa memilih sekolah lain karena mampu membayar biaya transportasi ke sekolah pilihannya. Tetapi, bagi orangtua keluarga miskin terpaksa tidak dapat mengirim anaknya untuk melanjutkan pendidikan karena tidak mampu membayar ongkos transportasi ke sekolah yang letaknya jauh. Anak-anak yang berasal dari keluarga miskin terpaksa tidak sekolah biarpun orangtuanya mengetahui bahwa sekolah bisa menjadi cara ampuh untuk memotong rantai kemiskinan.
Pada kesempatan Hari Anak Nasional, kiranya perhatian kita tidak saja pada acara menghibur anak-anak di bawah usia lima tahun atau anak usia sekolah lainnya. Secara serius perlu diberi perhatian kepada anak-anak keluarga miskin agar semua anak usia sekolah diusahakan untuk bisa sekolah di sekolah yang dekat dengan rumah masing-masing. Ada dua pendekatan yang perlu dikerjakan. Pertama, perlu dilakukan pendataan anak-anak keluarga miskin yang usia sekolah dan ditanyakan apakah sudah sekolah atau belum. Kedua, perlu dilakukan inventarisasi dan motivasi kepada semua sekolah untuk menyediakan bangku bagi anak usia sekolah yang berasal dari keluarga miskin dan bertempat tinggal di sekitar sekolah.
Pertama-tama, anak-anak keluarga miskin harus didorong oleh orangtua dan masyarakat sekitarnya, kalau perlu dibantu dan diberikan fasilitasi agar bisa dan mau sekolah. Anak-anak tersebut, kalau terpaksa membantu orangtuanya mencari nafkah, orangtuanya perlu dibantu oleh tetangganya agar bisa membebaskan anaknya untuk bisa sekolah. Kalau perlu, dalam suasana gotong-royong dalam forum pos pemberdayaan keluarga (posdaya), perlu dicarikan solusinya agar tenaga bantuan dari anak-anak bisa diganti dengan tenaga sukarela di antara tetangganya agar kehidupan keluarga miskin dapat lebih baik lagi.
Yang kedua, setiap sekolah yang ada di sekitar tempat kediaman keluarga miskin perlu didatangi oleh penduduk kampung, khususnya pengurus posdaya di kampung, untuk diminta kesediaannya agar hasil pendataan yang dilakukan, apabila diketemukan anak usia sekolah yang belum sekolah dapat ditampung dengan baik. Kalau anak itu tertinggal karena dasar pendidikan yang kurang baik, perlu diberikan pelajaran ekstra agar segera dapat seimbang dengan anak didik lainnya.
Apabila syarat masuk kurang cocok agar diberikan dispensasi dan kepada anak yang bersangkutan dapat diberikan pelajaran ekstra untuk mengejar kekurangan dan bisa segera merasa nyaman bergaul dengan teman lainnya. Apabila kondisinya kurang layak, kiranya dapat diberikan fasilitasi secara gotong-royong, sehingga tidak merasa kecil hati dan dapat menempuh pelajaran dengan kepercayaan diri yang besar.
Melalui hiruk-pikuk Hari Anak Nasional 2013, ada baiknya perlu dipikirkan upaya memberikan pelajaran ketrampilan di luar sekolah kepada anak-anak muda yang berasal dari keluarga miskin. Kursus-kursus ketrampilan dapat diberikan dengan membentuk kelompok belajar ketrampilan di luar sekolah, atau membentuk Pramuka berbasis masyarakat yang mengajarkan kepada anak didik ketrampilan atau soft skill yang berguna untuk hidup mandiri. Anak-anak keluarga miskin harus bekerja ekstra keras untuk makin sejahtera melalui upaya pembekalan diri lebih awal.
Keluarga yang bergabung dalam posdaya atau perkumpulan lain di tingkat desa dan kecamatan tidak perlu risau, peringatan Hari Anak Nasional tidak dirayakan dengan pesta pora. Moment tersebut justru dapat memberikan motivasi untuk bekerja keras melakukan pendataan untuk menyongsong 'Wajib Belajar 12 Tahun ' yang makin menarik di berbagai daerah dengan kewaspadaan penuh.
Mari kita ukur hasil pendidikan bukan hanya melalui jumlah dan mutu sekolah, atau kursus-kursus. Juga, bukan dengan melimpahnya murid di setiap sekolah. Tetapi, dengan jaminan bahwa setiap anak usia sekolah, utamanya anak keluarga miskin, bisa sekolah atau kalau belum sekolah, harus segera kita tolong agar mereka bisa sekolah. Selamat Hari Anak Nasional 2013.

Haryono Suyono  ;  
Mantan Menko Kesra dan Taskin
SUARA KARYA, 22 Juli 2013



Selengkapnya.. »»  

Hari Lahir Pancasila

Setiap tanggal 1 Juni, kita selalu mengenangnya sebagai hari lahirnya Pancasila. Dalam suasana sakral seperti itu, kita patut mengenang kembali peristiwa yang begitu dahsyat manakala sesepuh bangsa, Bung Karno, menggali ideologi bangsa dan secara resmi melahirkan Pancasila. Kemudian, bangsa ini dengan penuh kebanggaan menerima Pancasila sebagai pedoman hidup bernegara dan berbangsa serta acuan untuk membangun persatuan dan kesatuan, sekaligus sebagai dinamisator untuk menggerakkan semangat membangun bangsa Indonesia.

Pancasila yang digali dari khazanah budaya bangsa, sejak lama telah diterima secara penuh sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Tetapi, masih saja ada orang, yang meski sedikit, tetapi kalau dibiarkan bisa meracuni yang lainnya. Ironisnya, dalam mencari pedoman lain itu, Pancasila selalu dikambinghitamkan dan didiskreditkan dengan berbagai alasan. Orang-orang seperti itu justru lebih sering menyalahkan pemimpin kita Bung Karno, Pak Harto atau yang lainnya, seolah-olah telah menyelewengkan Pancasila. Padahal, pedoman lain yang disodorkan justru tidak sejalan dengan budaya bangsa yang sangat menghargai persatuan dan kesatuan.

Pancasila memupuk rasa persatuan dan kesatuan di antara warga negara. Dengan dilandasi semangat gotong royong mampu mengembangkan kekuatan bersama sekaligus memperkukuh kehidupan dengan kekuatan bersama. Bagaimanapun, kekuatan bangsa Indonesia justru berawal dari kebersamaan seluruh penduduk dari berbagai suku dan agama.

Sebuah kebersamaan dibangun melalui tim-tim sederhana yang mungkin pada awalnya sangat lemah karena pendidikan dan keadaan sosial ekonomi yang masih rendah. Melalui upaya pemberdayaan secara telatem dam intensif, maka terwujudlah "super tim" yang kukuh dengan semangat persatuan yang harmonis.

Memang, kita membangun kebersamaan demi sebuah kekuatan yang tidak terpatahkan. Ibarat sapu lidi, lidi-lidi tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi bersatu menjadi sapu yang kukuh dan bermanfaat. Sapu lidi secara bersama dapat mengais kotoran dan menjadikan area yang disapu menjadi bersih sekaligus menjadi wahana bagi tumbuh suburnya kekuatan yang membanggakan seluruh anak bangsa.

Dalam konteks Pancasila, dalam upaya mengentaskan kemiskinan, kita membangun puluhan ribu, bahkan cita-citanya ratusan ribu pos pemberdayaan keluarga (posdaya) di pedesaan. Sebagai forum silaturahmi, keberadaan posdaya mampu menyegarkan semangat gotong royong, bagian dari ajaran Pancasila. Dalam mengembangkan "super tim" yang terdiri dari beberapa keluarga, baik keluarga miskin maupun keluarga kaya.

Dengan semangat kebersamaan, mereka bahu-membahu memerangi musuh bersama, yakni kemiskinan dan kebodohan. Sehingga bangsa ini bebas dan berdaulat untuk bersama-sama menikmati kebahagiaan dan kesejahteraan yang adil dan merata. Keadilan tidak saja menjadi simbol dari mereka yang berhasil, tetapi dan mufakat untuk sebesar-besar kesejahteraan bersama.

Konteks pemberdayaan dalam kebersamaan mudah diucapkan, tetapi sukar dikerjakan. Lebih-lebih, kalau menyangkut upaya bersama untuk bekerja keras dan cerdas. Mereka yang sudah mapan sering sukar diajak bekerja keras, tanpa jaminan nyata yang dapat menguntungkan dirinya sendiri. Sebaliknya, mereka yang miskin cenderung terlena dengan janji-janji kosong para calon pemimpin bangsa, yang tidak pernah terwujud.

Sekaranglah momen yang tepat untuk menjadikan Pancasila sebagai arah pedoman kehidupan bangsa dalam upaya menggapai kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Selamat memperingati Hari Lahir Pancasila.

Haryono Suyono   
Mantan Menko Kesra dan Taskin
SUARA KARYA, 01 Juni  2013



Selengkapnya.. »»