Tampilkan postingan dengan label Mulyono D Prawiro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mulyono D Prawiro. Tampilkan semua postingan

Semua Anak Harus Sekolah

Lingkungan keluarga sangat menentukan proses pendidikan anak karena keluarga merupakan sumber kekuatan yang ampuh dan mampu membangunkan inspirasi bagi anak-anak di kemudian hari. Di sini orangtua memegang peranan yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Sudah mulai terlihat, bahwa anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh orangtuanya, dan secara naluri mereka juga ingin menjadi seperti orangtuanya apabila dewasa nanti, bahkan tidak jarang bercita-cita ingin seperti orangtuanya bahkan melebihi dalam berbagai hal. Namun, minimal fondasi yang kuat yang pernah ditanamkan oleh orang tuanya akan terus tertancap dalam hati dan pikirannya.
Lingkungan sekolah memiliki arti yang sangat penting bagi pendidikan anak-anak, betapa tidak, di sekolah anak-anak akan mendapatkan berbagai ilmu yang diberikan oleh guru. Peran guru dalam pembangunan pendidikan, karena guru selalu memberikan ilmunya kepada anak didik sesuai dengan kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya. Sungguh mulia pengabdian guru ini, karena guru mempunyai peran memberikan inspirasi, bantuan, dorongan dan tugas-tugas lain yang terkait dengan kedisiplinan anak didik, agar mereka kelak menjadi orang-orang yang bertanggung jawab dan bisa saling menghargai sesamanya. Untuk meningkatkan kemampuan siswanya maka guru dituntut tidak monoton dan selalu ada inovasi baru sesuai perkembangan yang terjadi.
Selain peran keluarga dan sekolah, peran lingkungan masyarakat juga tidak kalah pentingnya bagi anak didik, karena lingkungan masyarakat akan memberikan gambaran tentang bagaimana memahami orang lain dan bagaimana hidup di tengah-tengah masyarakat. Dengan berbaur bersama masyarakat, maka anak-anak dan kita semua akan berinteraksi dengan masyarakat, kita akan mengetahui adanya perbedaan, mana orang yang terdidik dan mana yang tidak terdidik.
Tantangan baru dalam dunia pendidikan saat ini antara lain, guru atau pendidik harus turut serta dalam proses perubahan dan perkembangan zaman. Karena ilmu itu terus berkembang, maka diharapkan semua pendidik mengikuti perkembangan-perkembangan yang terjadi dan menjadi garda terdepan dalam perubahan. Seperti akhir-akhir ini, perubahan yang terus terjadi dengan begitu cepat di berba gai bidang, seperti teknologi, ekonomi, sosial, budaya dan berbagai bidang lainnya. Tujuan pendidikan sendiri secara garis besar untuk membentuk individu yang maju secara fisik, moral dan intelektual serta membentuk manusia yang kreatif secara sosial.
Dalam proses pembangunan bangsa, peranan pendidikan sangatlah strategis, karena pembangunan merupakan proses yang berkesinambungan yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan warga bangsa secara keseluruhan. Menurut John C Bock dalam tulisannya berjudul Education and Development: A Conflict Meaning (1992), mengidentifikasikan bahwa peran pendidikan antara lain adalah untuk memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai sosio-kultural bangsa, mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan mendorong perubahan sosial, serta untuk meratakan kesempatan dan pendapatan. Selain itu, Chris Kirk, Chief Executive Officer GEMS Education Solutions mengatakan, "Sekaranglah saat yang tepat untuk merevolusi pendekatan terhadap pendidikan."
Saat ini, jutaan anak di seluruh dunia telah kehilangan pendidikan yang berkualitas. Penyediaan pendidikan berkualitas tinggi dan efisien secara global pun sangat dibutuhkan untuk memenuhi harapan keluarga-keluarga di seluruh dunia. Di sinilah pentingnya kerja sama antara sektor pemerintah dan swasta serta organisasi non-pemerintah.
Sejak disepakatinya program Millennium Development Goals (MDGs) oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia berapa tahun lalu, kesepakatan tersebut antara lain pada upaya mencapai 8 sasaran MDGs dengan sasaran utamanya pengentasan kemiskinan. Kemiskinan bisa timbul karena rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, sehingga peningkatan kualitas pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pengentasan kemiskinan. Seluruh warga bangsa sepakat bahwa faktor pendidikan merupakan priortias utama dalam mencapai sasaran target MDG's.
Cara yang ditempuh antara lain memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak keluarga kurang mampu. Harapannya, jangan sampai ada anak usia sekolah tidak sekolah, jangan hanya karena terbentur biaya mereka tidak bisa mengeyam pendidikan. Namun lagi-lagi, sesuatu yang gratis, oleh sebagian orang dianggap merendahkan kemampuan masyarakat dan hal itu dianggap tidak mendidik. Sebenarnya yang diharapkan adalah, adanya upaya atau dorongan agar masyarakat bisa mandiri. Dengan demikian, mereka dengan kepercayaan diri dan kebanggaan besar mampu mengantar anak-anaknya ke sekolah, tidak menginginkan lagi yang gratis-gratis.
Masih banyak anak miskin yang tinggal di sekitar sekolah tidak sekolah, karena dianggap sekolah favorit, dan mengutamakan yang pintar. Dhus, anak-anak keluarga kurang mampu yang biasanya kurang pandai tidak bisa memenuhi persyaratan yang diwajibkan. Yang perlu diperhatikan, apakah anak-anak dari keluarga kurang mampu tersebut mendapatkan akses ke sekolah atau tidak. Walapun gratis, tetapi jarak antara rumah dengan sekolah yang gratis sangat jauh, ya tidak ada dampaknya. Anak-anak keluarga miskin tetap saja tidak bisa sekolah. Ini membuat Indeks Pembangunan Manusia dalam bidang pendidikan rendah dan target MDGs tidak akan tercapai. Untuk itu, tujuan pembentukan dan pengembangan pos pemberdayaan keluarga (posdaya) antara lain ikut serta mencari anak-anak keluarga kurang mampu untuk didorong dan mengirimnya ke sekolah.

Mulyono D Prawiro ;   
Dosen Pascasarjana dan Anggota Senat
Universitas Satyagama, Jakarta
SUARA KARYA, 16 Juli 2013



Selengkapnya.. »»  

Kegiatan Belajar Seumur Hidup


Minggu lalu Universitas Satyagama, Jakarta dalam sidang disertasi terbuka dipimpim oleh Rektor/Ketua Senat Prof Dr Ir Soenardjo Wirjoprawiro, MSi, berhasil meluluskan mantan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Sugito Suwito sebagai doktor baru dalam bidang Ilmu Pemerintahan yang ke-105. Meskipun Sugito sebagai salah satu mahasiswa yang tergolong senior dari segi usia, namun semangat dan perjuangannya mengikuti perkuliahan dan belajar membuat iri para generasi muda. Karena menurutnya, belajar merupakan kegiatan seumur hidup, sehingga yang bersangkutan bekerja dan belajar sangat keras dan disertasinya mendapatkan nilai yang luar biasa dengan predikat Cum Laude.

Dalam disertasinya, Sugito menyoroti masalah kemiskinan dan kesejahteraan di Indonesia. Ini merupakan kajian yang unik dan menarik untuk diperbincangkan, apa lagi akhir-akhir ini pemerintah selalu optimis, bahwa prosentase angka kemiskinan di Indonesia dari tahun ke tahun berhasil diturunkan dan kesejahteraan rakyat terus mengalami kenaikkan. Dari data yang dikeluarkan pemerintah, angka kemiskinan terus membaik, seolah-olah di atas kertas hasil kerja dan program pemerintah sangat luar biasa sesuai dengan target dan sasaran yang ditetapkan. Namun, di sisi lain jarang diungkap mengenai semakin melebarnya tingkat kesenjangan pendapatan masyarakat, dan secara kuantitatif jumlah penduduk miskin terus bertambah.

Sampai saat ini, batas garis kemiskinan itu sendiri masih menjadi bahan perdebatan. Tahun 2011, pemerintah menetapkan batas garis kemiskinan di Indonesia sebesar Rp 233.740,- per kapita per bulan atau sekitar Rp. 7.000,- per hari atau kurang dari satu dolar AS. Sedangkan batas garis kemiskinan menurut versi Bank Dunia adalah 2 dolar AS per hari atau sekitar Rp 19 ribu per hari. Seandainya kita menggunakan batas garis kemiskinan menurut standar Bank Dunia, maka diperkirakan prosentase angka kemiskinan di Indonesia akan jauh lebih tinggi lagi, bahkan ada yang memperkirakan angka tersebut di atas 25 persen.

Dari hasil kajian yang dituang dalam naskah disertasinya, diketahui di Kota Bekasi jumlah penduduk miskin menunjukkan tren terus meningkat. Pada 2002 jumlah penduduk miskin di kota itu tercatat sebesar 3,66 persen, 2006 tercatat 5,07 persen dan pada 2010 lalu 5,30 persen. Sugito menggunakan tiga pendekatan yang berbeda, pertama penelitian lapangan dengan wawancara terhadap nara sumber yang terdiri dari, tokoh mayarakat, ketua posdaya dan pejabat daerah, bagaimana proses pemberdayaan dan program pengentasan kemiskinan dilaksanakan di Kota Bekasi.

Kedua, menggunakan literatur yang dianggap relevan dengan fokus dan lokus penelitian, dan yang sangat menarik adalah dalam menganalisa data hasil penelitian, menggunakan model Structural Equation Model (SEM), suatu model yang jarang sekali dipergunakan oleh para mahasiswa yang mengambil doktor dalam bidang Ilmu Pemerintahan, karena perhitungannya dianggap sangat rumit. Namun sebagai seorang mantan kepala BPS, yang sangat memahami seluk beluk statistik, Sugito dengan mudah menyajikan hasil penelitiannya dengan sangat baik menggunakan model SEM tersebut.

Dalam menganalisis hasil penelitian dengan menggunakan model SEM, yang dikemukakan oleh Sugito ternyata memberikan sumbangan metodologis ilmiah yang sangat berharga. Itu, memperkaya kemampuan dan pendalaman analisis terhadap variabel-variabel yang berhubungan dengan ilmu pemerintahan dan pengaruhnya terhadap peran dan partisipasi masyakarat yang mendorong suksesnya kepemimpinan, tata pemerintahan dan etika pemerintahan yang diharapkan masyarakat dalam tatanan pembangunan yang multi komplek dewasa ini.

Di samping itu juga terungkap, bahwa ketiga variabel yang dipergunakan di atas mempunyai nilai positif dan signifikan dalam memberikan perhatian pada hal-hal yang konkrit, yang dalam masa transisi demokrasi seperti saat ini, dan dapat dianggap sebagai penemuan secara akdemik yang luar biasa dan menarik.

Secara teoritis melalui disertasinya, Sugito yang memandang bahwa belajar adalah kegiatan seumur hidup, telah mampu memberikan sumbangan yang sangat positif terhadap pengembangan ilmu pemerintahan, khususnya dalam pengembangan indikator-indikator yang sangat relevan dengan perkembangan ilmu, yang dapat dipergunakan untuk memprediksi atau mengarah pada asumsi-asumsi yang dapat menguntungkan banyak orang. Baik itu untuk para pejabat yang masih aktif maupun bagi mereka yang peduli terhadap rakyat miskin.

Salah satu sarannya dalam upaya pengentasan kemiskinan di Kota Bekasi dan daerah-daerah lain di Indonesia, adalah diperlukannya secara bertahap dan selektif sesuai dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing suatu pertimbangan utama perlu segera merealisasikan paradigma baru yang mampu mendorong percepatan pengentasan kemiskinan. Dalam hal ini, diutamakan wilayah yang masyarakatnya siap menjadi kepanjangan fungsi pemerintah, dengan kapasitas, kredibilitas dan perhatian yang memadai pada program pemberdayaan.

Dengan adanya pos pemberdayaan keluarga (posdaya) yang menurut Prof Dr Haryono Suyono adalah forum silaturahmi, advokasi, komunikasi, edukasi dan sekaligus dapat dikembangkan menjadi wadah koordinasi kegiatan fungsi-fungsi keluarga secara terpadu dan menyebar ke seluruh Indonesia, maka upaya peningkatan efektifitas pemberdayaan khususnya pemberdayaan keluarga miskin di desa-desa akan menampakkan hasil. Sugito yang saat ini memimpin lembaga INSTAT, telah mampu memberikan kontribusi yang luar biasa pada pengembangan posdaya di seluruh Indonesia, yang sampai saat ini telah berjumlah lebih dari 17 ribu posdaya.

Selamat kepada doktor baru, Dr Sugito Suwito, MA, semoga menjadi inspirator bagi genarasi muda untuk tetap belajar seumur hidup dan berjuang mengentaskan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia.

Mulyono D Prawiro
Dosen Pascasarjana dan Anggota Senat Universitas Satyagama, Jakarta
SUARA KARYA , 03 September 2012


Selengkapnya.. »»