Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Daya Saing Guru dan Pendekatan Sains


SURVEI World Economic Forum (WEF) pada 2012 menyatakan daya saing nasional Indonesia berada di peringkat ke-50 dari 144 negara. Itu isyarat bahwa daya saing kita harus berbenah untuk menghadapi era kompetisi global. Tanri Abeng, pakar manajemen Indonesia, dalam suatu kesempatan selalu mengingatkan bahwa kita memiliki SDM yang banyak, tetapi tidak cukup.

Sumber daya manusia dan sumber daya alam kita melimpah ruah, tetapi SDM yang memiliki 7S dalam konsep McKinsey masih belum memadai. Lalu, apa yang salah dengan manajemen sumber daya manusia kita? Apakah rekrutmennya yang belum link and match dengan prosedur operasional standar? Atau, SDM-nya yang kurang menguasai teknik penilaian yang objektif?

Setidaknya gambaran SDM Indonesia pernah dikemukakan Guru Besar Universitas Waseda Jepang Profesor Toshiko Kinosita. Sumber daya manusia Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. Penyebabnya ialah pendidikan tidak ditempatkan pada prioritas terpenting. Oleh sebab itu, sangat penting menentukan metode terbaik bagi dunia pendidikan dengan jalan invest in man, not in building.

Daya Saing Guru
Daya saing ialah kualitas guru yang ditandai dengan adanya high-tech dan hightouch yang melekat pada profesi guru. Kedua dimensi tersebut menjadi pembeda guru dengan lainnya. Untuk penguatan kualitas profesi guru, guru pun diuji melalui tes UKG secara online. Hasilnya sudah bisa ditebak, sebagian besar guru belum mencapai passing grade yang diinginkan. Lebih ironis lagi, guru yang belum mencapai standar itu adalah guru yang bagus dan selama ini mampu mengajar siswa untuk berprestasi secara akademik dan nonakademik.

Mereka guru-guru kreatif dan inovatif. Mereka juga mampu menggali potensi siswa yang terpendam, yang awalnya kecil hingga menghasilkan ledakan prestasi yang dahsyat. Sepertinya ada yang salah dengan pemberlakuan uji tersebut. Alasannya, materi yang diujikan bukanlah substansi materi ajar yang diampu guru bersangkutan, melainkan materi yang berfokus pada kompetensi pedagogis yang notabene lebih berorientasi pada C1 dan C2 dalam tingkatan Taksonomi Bloom.

Selain itu, penguasaan hightech bagi guru senior masih rendah. Hasil tes itu agaknya kurang fair jika hanya didasarkan pada hasil tes UKG guru secara parsial. Untuk menilai secara objektif, uji komprehensif harus dilakukan. Hasil penilaian itulah yang bisa menilai daya saing guru secara fit and proper. Kreitner dan Kinicki (2001) menyebutnya penilaian 360 derajat. Penilaian itu melibatkan kepala sekolah sebagai top leader, teman sejawat (sesama guru), siswa, serta alumni dan orangtua siswa.

Keempat dimensi itulah yang paling tahu kinerja guru di lapangan. Merekalah yang terlibat langsung dengan pelayanan guru, di sekolah dan luar sekolah. Merekalah yang tahu bagaimana guru mentransfer modal pengetahuannya secara efektif atau tidak?

Tidak salah ketika Drucker (1993) menyatakan keunggulan masa depan sangat ditentukan pemilikan ilmu pengetahuan. Artinya, siapa yang lebih cepat belajar, ia akan lebih unggul. Contoh negeri yang sukses karena peletakan dasar SDM guru adalah Jepang. Negara itu sukses mengatur negaranya yang hancur menjadi setara dengan negara maju karena belajar lebih cepat. Tidak salah bila yang pertama disebut perdana menteri Jepang saat itu adalah guru, di mana guru? Betapa mulianya tugasmu. Mentransformasi daya saingmu demi warga negara yang berkarakter dan memiliki sisi akademik yang tangguh.

Pendekatan Sains

Dalam menyambut tahun 2013, sederetan PR bagi guru sudah menanti. Pemberlakuan
penilaian kinerja guru secara efektif dan perubahan kurikulum dari KTSP menjadi kurikulum 2013 adalah dua hal yang harus dihadapi. Yang pertama mengacu ke prestasi aksi dan prestasi hasil seorang guru selama satu tahun. Efeknya, hasil penilaian itu akan menentukan seberapa besar kinerja ilmiah yang dihasilkan dan muaranya ke perbaikan kinerja ekonomis guru. Yang kedua, orientasinya pada perubahan standar kompetensi lulusan, isi, proses, dan penilaian. Yang unik ialah jumlah mata pelajaran berkurang, tetapi jumlah jam per minggu bertambah akibat perubahan pendekatan pembelajaran.

Pada draf kurikulum 2013, pendekatan pembelajaran yang digunakan ialah pendekatan sains. Siswa akan diajari mengamati objek, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Selain itu, hal lainnya yang tidak kalah penting ialah keterampilan proses sains. Pada aspek tersebut, siswa dapat memahami ontologi sains sebagai proses dan produk serta pembentukan sikap ilmiah dengan benar. Karena melalui pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses sains, anak belajar proses dan produk sains secara aktif. Keterampilan proses sains bersifat transferable terhadap bidang ilmu lainnya dan tidak mudah terlupakan oleh siswa.

Bagi guru sains, implementasi pendekatan sains bukanlah hal baru. Namun, bagi guru nonsains, pendekatan tersebut memerlukan pelatihan baru.

 Konsekuensinya, guru-guru akan dilatih kembali dengan anggaran besar untuk memperkuat daya saing guru di pentas lokal, regional, dan internasional. Kita berharap yang terjadi di 2013 bukan kurikulumnya yang berubah, melainkan yang lebih penting ialah perubahan di antara the man behind the method. Atau, seperti kata Rhenald Kasali, “Untuk berubah menuntut adanya lima hal sekaligus: visi, skill, insentif, sumber daya, rencana tindak.”

Visi perubahan harus dirumuskan bersama agar dampak program yang dijalankan bisa dipertanggungjawabkan. Semua eksekutor harus punya skill yang diandalkan untuk menghadapi masa depan yang dinamis. Guru yang mampu memberi kontribusi positif terhadap daya saing siswa patut diberi reward yang layak. Perubahan memerlukan gizi yang memadai agar berdaya dorong yang kuat. Sumber daya guru dan sumber daya lainnya harus bersinergi untuk mencairkan hambatan yang mungkin terjadi jika suatu pendekatan baru diterapkan.

Rencana tindakan harus dibuat tertulis, lengkap menyeluruh menurut sasaran, waktu, dan sumber daya yang dibutuhkan. Singkatnya, betapa pun bagusnya kurikulum yang dirancang para ahli dan canggihnya pendekatan pembelajaran yang dipilih decision maker, bila tidak didukung SDM guru yang andal, suatu rencana aksi ibarat fatamorgana di padang sahara.

Andi Nasrun ; 
Guru SMP Negeri 1 Bulukumba, Sulsel;
Program S-2 Manajemen Kepengawasan Pendidikan MM-UGM Yogyakarta
MEDIA INDONESIA, 11 Desember 2012



Selengkapnya.. »»  

Einstein, Tuhan, dan Alquran


“Sains kerap tidak dapat menembus ruang misteri, tapi melalui partikel suci fitri selalu saja ada hidayah yang membimbing manusia untuk menyentuh energi misteri itu."

BERMULA dari rumus E=mc2, di usia 26 tahun, pada 1905 Albert Einstein menemukan energi fitri dalam lintas cahaya mahadahsyat. E=mc2 menjelaskan persamaan nilai antara energi (E) dan massa (m), yang disetarakan secara langsung melalui konstanta kuadrat laju cahaya dalam vakum (c2). Energi sama dengan massa kali kuadrat kecepatan cahaya. Einstein terperangah! Dalam ruang kontemplasi nalar ia bertawaf pada ruang mahaagung jagat raya, matahari, planet, bintang, dan entah apalagi. Itu tentu butuh energi luar biasa untuk menciptakan massa. Di situ, Einstein memosisikan energi sebagai emanasi Zat Mahaagung sekaligus Zat Mahaagung itu sendiri!

Cosmic religion khas Einstein yang memosisikan cahaya dalam vakum (c2) untuk menjabarkan abstraksi energi itu ternyata 14 abad sebelumnya telah disitir dalam Surah An-Nur (24): 35, “Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hamper-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.“

Surah An-Nur ayat 35 mengisyaratkan bahwa misykab/cela merupakan simbol religi, azzujaj merupakan komunitas manusia berzikir nalar, dan al mishbah adalah kalbu. AsySyajarahb merupakan sosok manusia yang bersih, steril, dan istikamah. Minyak adalah simbol rahasia-rahasia Allah. Matsalu nurihi/ perumpamaan cahaya-Nya adalah cahaya makrifat. Hal itu diadopsi Einstein sebagai `the most beautiful experience we can have is t the mysterious'. Adalah ruang misteri sekaligus perjalanan emosi ketika manusia berada pada titik temu terjauh di antara seni sejati dan sains sejati. Emang sih, sains kerap tidak dapat menembus ruang misteri, tapi melalui partikel suci fitri selalu saja ada hidayah yang membimbing manusia untuk menyentuh energi misteri itu.

Energi misteri benih telur (ovarium) yang melekat pada dinding rahim perempuan, misalnya, hanya mencapai panjang 0,125 milimeter. Itu pun untuk 200 benih telur dijejerkan dalam satu deret lurus. Namun ovarium bisa menjadi luar biasa. Itu terjadi ketika benih telur tersebut mendapat sentuhan pembuahan dari benih sperma lelaki. Satu ovarium masak bertemu dengan satu benih sperma sehat akan menghasilkan 46 kromosom, yaitu 23 kromosom berasal dari ovarium dan 23 kromosom dari sperma. Perpaduan kromosom itu setiap harinya akan membelah diri menjadi dua sel, terusmenerus, dan lewat proses ajaib jadilah apa yang disebut fetus. Itulah calon makhluk berakal yang banyak disebut sebagai manusia.

Kendati tercipta bermula dari sari pati air yang hina, keberadaan manusia sangatlah istimewa. “Manusia adalah mahkota serta puncak alam semesta,“ tutur Hamzah dari Pansur, empat abad lalu. Lain lagi Abbas Mahmud al-Aqqad. Ia menulis bahwa manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan. Adapun Syams Al Din dari Pasai, pada abad XVI bertutur bahwa manusia adalah penjelmaan zat mutlak yang paling penuh dan paling sempurna. Adinegoro menulis bahwa manusia adalah alam kecil, sebagian dari alam besar di atas bumi.

Aneka pendapat tersebut, dalam kajian filsafat abad XVI, menjadi acuan dalam memosisikan dan memaknai hakikat manusia. Di dataran pemikiran itu, kedudukan manusia ditempatkan pada dimensi religius yang kukuh. Ia terposisikan pada konstruksi pusat periferal keajekan alam. Seperti sebuah samudra mahaluas, manusia ialah penghubung antara Zat Mutlak dan segala penciptaanNya. Alam mikrokosmos yang mengungkapkan alam makrokosmos. “Seperti halnya air menjadi penghubung antara ombak dan laut,“ ungkap Hamzah.

`Sebagai pangkat terakhir penjelmaan Zat Mutlak, manusia bisa diposisikan sebagai titik balik bagi perjalanan kembali kepada Allah. Secara potensial manusia adalah tempat pertemuan antara tanazzul dan taraqqi, atau tempat pertemuan pengaliran keluar dan pengaliran kembali', tulis Harun Hadiwijoyo. Seorang Soeryanto Poespowardojo bahkan menuturkan bahwa manusia ketika terlempar dalam situasi tertentu butuh bentuk-bentuk pengejawantahan yang perlu direalisasikan, yaitu dinamika dan histori. Artinya, keseluruhan jati diri manusia adalah potensi dinamis penuh daya cipta, karsa, dan rasa. Paparan tersebut diakses Albert Einstein sebagai sinergi emanasi energi misteri E=mc2.

Tidak aneh manakala empirisme emosional mengantarkan manusia pada sains-sains ilahiah: jalinan mikroskopis membuat tanaman bertumbuh, mengeraskan sisa-sisa tubuh hewan laut menjadi bukit kapur, menyatukan uap air menjadi awan, dan Big Bang yang telah memuntahkan samudra partikel, kemudian material subatomik itu membentuk miliaran galaksi hingga terwujudlah `sebutir pasir' bernama bumi yang kini kita tempati.

Yang ajaib, sebagai makhluk yang hinggap di sebutir pasir, manusia ternyata memiliki potensi fitri dalam mengembangkan kebudayaan yang cemerlang. Pada titik yang terjauh, manusia bahkan memiliki moralitas yang tidak dimiliki hewan apa pun, termasuk apa yang dijelaskan dalam teori evolusi Darwin. Einstein bahkan memberi apresiasi tinggi terhadap pandangan filsuf Baruch de Spinoza seputar `jiwa' yang tak berwujud dan tubuh yang berwujud adalah satu. Adalah primordial spirit (jiwa utama) yang zikirkan moralitas Idul Fitri.

Potensi energi fitri tersebut selalu saja ditelikung perumitan dilematis bersifat holistis. Potensi yang dimiliki untuk memperluas kesempurnaan sebagai bayang-bayang energi fitri direduksi langkah laku pembodohan jiwa. Hamzah menyebutnya gaflat. Hamzah menulis, `Adapun rupamu itu, bayang-bayang jua, namamu itu gelar-gelaran jua; dari pada gaflatmu kausangka engkau bernama dan berupa'. Manusia akhirnya kehilangan apa yang seharusnya tetap melekat di dalam pencahariannya, yaitu nur Allah!

Einstein, Tuhan, dan Alquran? Ah, saya jadi teringat saat ikut khuruj fi sabilillah bareng Jamaah Tablig. “Sesungguhnya di sekitar Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya, yang di antaranya terdapat suatu kaum yang menggunakan pakaian cahaya,“ tutur tausiah amir, “Wajah mereka bercahaya dan mereka itu bukan nabi, juga bukan para syuhada. Siapakah mereka itu? Mereka adalah orang-orang yang saling menjalin cinta kasih karena Allah, dan saling bermajelis (duduk memikirkan sesuatu) karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah semata.“

Saya tersenyum. Bisa jadi salah satu di antara mereka yang berpakaian cahaya surga itu, atas rida Allah SWT, adalah Albert Einstein yang wafat pada usia 76 tahun di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, pada 18 April 1955.

Tandi Skober
Budayawan
MEDIA INDONESIA, 07 Agustus 2012


Selengkapnya.. »»  

Puasa Ramadan, Antara Tradisi dan Sains


Puasa Ramadan, Antara Tradisi dan Sains

TENTANG perbedaan awal Ramadan kali ini, saya ingin mengemukakan pendapat salah seorang kawan. Dia mengatakan bahwa perbedaan itu sebenarnya berujung pangkal dari definisi hilal, yang memang berbeda. Ada yang mendefinisikan hilal secara tradisi, dan ada yang mendefinisikannya secara substansi. Jika didefinisikan secara tradisi, hilal adalah bulan sabit yang tampak oleh mata telanjang, seperti zaman Nabi Muhammad SAW. Tetapi, jika didefinisikan sebagai substansi, hilal adalah penanda datangnya "bulan baru". Dengan demikian, kemunculannya bisa dihitung dengan metode sains modern, tanpa harus mensyaratkan terlihat secara kasatmata.

 Maka, sebagaimana penetapan waktu salat, kita bisa memilih definisi tentang hilal. Jika waktu salat dipahami secara tradisi, tidak bisa tidak, kita harus selalu melihat matahari setiap mau menjalankan salat, sebagaimana Rasulullah melakukannya saat itu. Dalam hal puasa Ramadan, hilal harus terlihat kasatmata, tanpa ada kompromi apa pun. Termasuk jika awan tebal menutupi ufuk barat selama berhari-hari, sehingga hilal tidak kelihatan. Tetapi, jika kita memilih substansi bahwa hilal adalah penanda datangnya bulan Ramadan, kita sudah bisa memulai puasa Ramadan sesuai hasil perhitungan waktu secara saintifik, tanpa terikat penampakan hilal. Persis seperti penentuan waktu salat yang cukup melihat jam sebagai hasil hisab ilmiah, tanpa harus melihat matahari.

 Dalam konteks umat Islam di Indonesia, masalahnya memang bukan soal bisa melakukan perhitungan secara saintifik atau tidak. Sebab, semua pihak sudah sama-sama pintar menghitung posisi bulan. Yang terjadi adalah ketidaksepakatan penentuan definisi hilal tersebut. Satu pihak mendefinisikan hilal secara tradisi, dan lain pihak mendefinisikan hilal sebagai substansi. Runyamnya, perbedaan yang mestinya sederhana dan bisa diselesaikan secara teknis ini, lantas merambah ke wilayah yang lebih politis dengan bumbu-bumbu ego pribadi atau ego kelompok, yang semakin "kusut".

 Maka, ketika hal ini belum bisa diselesaikan secara keumatan, saya mengusulkan agar umat Islam menjadi tahu duduk persoalannya secara pribadi terlebih dahulu. Ini agar sebagai individu, kita bisa mempertanggungjawabkan keputusan kita di hadapan Allah. Juga biarlah mereka yang punya kewenangan untuk memutuskan secara keumatan itu mempertanggungjawabkan keputusannya kepada Allah, pada waktunya.

 Umat Islam harus dipahamkan agar menjadi tahu duduk persoalannya dan tidak beragama secara ikut-ikutan belaka. Sebab, pertanggungjawaban kita kepada Allah memang tidak berlaku rombongan, tapi sendiri-sendiri.

 Pemimpin mempertanggungjawabkan kepemimpinannya, pengikut juga mempertanggungjawabkan keikutsertaannya secara personal. Bahkan, antara orang tua, anak, dan guru pun tidak menghadap Allah bersama-sama. Melainkan nafsi-nafsi.

Dan mereka semua akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah. Lalu berkata para pengikut kepada pemimpinnya: "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu. Maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab Allah barang sedikit? Para pemimpin itu menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami akan memberitahukan caranya kepadamu. Kita ini sama saja, mau mengeluh atau bersabar. Sedikit pun, kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri." (QS. Ibrahim: 21)

 Nah, dalam berbagai perhitungan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang berkompeten, kita tahu bahwa akhir bulan Syakban adalah sekitar pukul 11.25 wib. Di seluruh Indonesia, hilal muncul pada ketinggian yang sangat tipis, tidak sampai 2 derajat, dengan tingkat kecemerlangan di bawah satu persen. Dengan kata lain, hampir dipastikan bulan tidak tampak oleh mata telanjang. Semua pihak tidak ada yang berbeda pendapat tentang hasil perhitungan ini.

 Namun, ternyata data yang sama ini bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Yakni, ketika digunakan untuk memutuskan awal berpuasa. Bukan awal Ramadan. Kalau, soal awal Ramadan, semua berpendapat sama bahwa bulan Syakban sudah habis pada Kamis, 19 Juli 2012. Dan, 1 Ramadan jatuh pada Jumat, 20 Juli 2012. Yang berbeda itu, sekali lagi, adalah "awal berpuasa".

 Ada yang berpuasa pada 1 Ramadan (20/7) dan ada yang memulainya pada 2 Ramadan (21/7). Dengan alasan masing-masing. Satu pihak mengikuti tradisi, di lain pihak berdasar substansi. Tentu saja, kita sebagai "pengikut" harus pintar dan hati-hati mengikutinya, karena pertanggungjawaban kita kepada Allah itu ternyata bersifat sendiri-sendiri..!  Semoga Allah membimbing kita semua di dalam ilmu dan ridha-Nya.

Agus Mustofa
Penulis Buku Serial Tasawuf Moden
JAWA POS, 23 Juli 2012


Selengkapnya.. »»  

Membangunkan Sains Indonesia


Membangunkan Sains Indonesia

Peta hasil kemampuan akademis kita dapat ditera dari akumulasi publikasi ilmiah serta sumbangannya pada kemajuan perekonomian dan pembukaan lapangan kerja. Namun, masa hibernasi yang lama membuat banyak sektor pendidikan dan penelitian terbengkalai.

Indeks yang dicitrakan oleh metrik pertama, publikasi ilmiah, tidak dapat dihindari karena merupakan pencerminan kemampuan mengungkap rahasia alam, baik di bidang sains murni maupun terapan.

Metrik kedua merupakan ukuran komitmen kita pada pembangunan bangsa sekaligus unjuk watak pendidikan dan kemampuan lembaga penelitian, baik di lingkup perguruan tinggi maupun lembaga penelitian. Lembaga seperti ini merentang pengertian sains, teknologi, dan budaya dalam medan sosial bangsanya. Yang pertama menumbuhkan tantangan pada alur kecerdasan dan intelektualitas. Yang kedua menghadirkan daya dorong laju penciptaan intelektual, keprigelan, dan kejelian memandang kesempatan.

Kesempatan adalah peluang yang tidak pernah bermata. Oleh karena itu, kejelian kita diperlukan untuk menangkap kesempatan lewat pembaruan dan ekonomi (Rahardi Ramelan, Kompas, 1 Juni 2012).

Studi baru dari peneliti Australia memanfaatkan data Institute for Science Information (ISI) menunjukkan berita gembira: ke-10 anggota ASEAN menghasilkan makalah ilmu pengetahuan tiga kali lebih banyak selama dekade terakhir daripada dekade sebelumnya.

Menggembirakan, tetapi runutan rinci akan membuat kita berkerut dahi: 45 persen produk ilmiah ini dihasilkan Singapura, diikuti Thailand 21 persen dan Malaysia 16 persen pada lapisan kedua. Baru pada lapisan ketiga terlihat sumbangan Vietnam 6 persen, Indonesia 5 persen, dan Filipina 5 persen.

Ini jelas gambaran kurang menyenangkan dari perspektif Indonesia, apalagi ada dua hal lagi yang seharusnya menjadi cambuk bagi kita. Pertama, Thailand dan Malaysia menunjukkan peningkatan terbesar, sedangkan Indonesia dan Filipina peningkatannya terkecil.
Kedua, Vietnam sangat kuat di bidang fisika dan matematika, Singapura pada sains materi dan nanoteknologi, Thailand pada ilmu pengetahuan gizi dan makanan. Malaysia berjaya pada rekayasa dan Filipina pertanian.

Berada pada lapisan ketiga, apalagi di bawah Malaysia dan Thailand tanpa keunggulan ilmu pengetahuan, tentu tidak membanggakan. Sedikitnya ada dua argumen yang mengakibatkan unjuk kerja kita terpuruk. Pertama, riset di perguruan tinggi (PT) serta lembaga pemerintah kurang efisien-efektif. Terutama karena sistemik penyelenggaraan penelitian kurang mendukung, di samping melemahnya kemauan dan kemampuan sumber daya manusia.

Membangun Asa

Ibarat komputer, elemen pembangkit sistem ilmu pengetahuan di negara kita nyaris hang dan perlu segera di-boot ulang. Maka, yang harus diubah pertama kali adalah pemahaman para pemangku kepentingan akademis mengenai hakikat pendidikan tinggi.

PT adalah sasana tempat pengalihan dan pengembangan ilmu yang bisa melahirkan ilmu-ilmu baru atau terapan yang membangun. Jadi, selain sebagai tempat penyemaian kemampuan intelektual, PT adalah tempat mengkaji pemikiran. Riset yang dilakukan secara terintegrasi dengan pendidikan (pascasarjana) tentu saja merupakan cita-cita Tri Dharma PT. Pendidikan dan riset akan secara interaktif menguatkan kontribusi PT dalam menghasilkan produk sadar kebutuhan masyarakat.

Karena jumlah dana penelitian terbatas, dibutuhkan strategi pendanaan. Konsekuensinya, penetapan area dan topik riset unggulan di PT tidak hanya sah, tetapi merupakan suatu keharusan kalau hasil hendak dipertandingkan dengan sumbangannya. Maka, mekanisme pemilihan tema jelas berbeda dengan agenda riset nasional (ARN).

Jika ARN bersifat top-down, di PT mekanisme harus bersifat bottom-up, yakni mengakomodasi bakat, minat, dan tujuan khas peneliti. Hal ini penting karena seperti hasil studi di atas, setiap negara hanya mampu mencuatkan satu atau beberapa keunggulan hasil penelitian. Kaidah ”ambeg parama arta” sangat penting sebagai wawasan, bukan mendiskriminasi unggulan.

Keunggulan SDM dapat diketahui dengan cermat dari basis data yang sudah ada, seperti ISI Thomson. Penentuan kualitas dan kuantitas sumber daya alam (SDA) dapat dilakukan melalui pemetaan kekayaan nasional. Keunggulan SDA, mulai dari keanekaan hayati, kedudukan Indonesia dalam lingkup ring of fire, sampai ke panjang pesisir kita, zoonis, dan peri kebinatangan tropika, merupakan energi potensial untuk bersaing dalam kancah riset internasional.

Tentu saja kita tidak boleh menelantarkan bidang lain karena akan terjadi pengerdilan suatu bidang ilmu. Porsi 30 persen dana penelitian yang dicanangkan pemerintah untuk dikompetisikan akan masuk ke sini. Di samping itu, pemerintah memikul kewajiban luhur mencarikan dana alternatif bagi bidang-bidang langka. Perlu kepekaan sistemik memilah tema keilmuan dan rekayasa yang memberi kegunaan pada masa depan.

Unsur Penentu

Penggunaan indeks ISI sebagai patokan kinerja pengembangan sains memerlukan redefinisi pengertian jurnal internasional. Hakikat penulisan ilmiah adalah peneliti memasarkan hasil risetnya. Proses ini akan dinilai berhasil jika ada ”pembeli”.

Sebuah makalah dianggap ”dibeli” jika ada yang membaca, mengutip, dan menindaklanjuti makalah tersebut. Definisi impact factor (IF) penting untuk dipahami. Sebuah jurnal dengan IF tinggi menunjukkan bahwa jurnal tersebut sering dikutip sehingga harus memiliki IF.

Baru-baru ini kolega dari Malaysia menginformasikan jika negaranya hanya mendefinisikan dua jenis publikasi, dengan IF dan tanpa IF. Hanya yang pertama yang mendapat insentif!

Baik di PT maupun lembaga penelitian ujung tombak riset adalah para senior yang sering dimanifestasikan dalam sosok guru besar atau profesor riset. Mereka adalah elite dalam masyarakat pendidikan dan penelitian yang diharapkan menjadi ujung tombak kemajuan sains.

Jadi, sistem harus ”memaksa” kelompok elite ini melaksanakan tugas luhurnya untuk publikasi riset ataupun wawasan pemikiran akademik yang bermakna. Salah satu tugas senior di PT adalah membimbing mahasiswa S-3 dan menanamkan jiwa keilmiahan. Jadi, tidak salah jika kualitas pendidikan strata S-3 hendak disejajarkan dengan kualitas global.

Di beberapa universitas, baik di dalam maupun di luar negeri (Malaysia, misalnya), publikasi internasional bukan merupakan barang asing, baik bagi promotor maupun mahasiswa S-3. Sudah semestinya hal ini merupakan cetak biru program PT.

Tidak kurang penting adalah sistem insentif dan pemberian hibah penelitian. Sistem insentif yang berasas ”bagi rata” harus diganti dengan asas meritologi dan kepentingan keilmuan. Dana penelitian yang diberikan tepat-tempo membuat peneliti memiliki kepastian awal dan akhir kerjanya.

Bambang Hidayat
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
KOMPAS, 29 Juni 2012



Selengkapnya.. »»