Tampilkan postingan dengan label Th Rosid Ahmad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Th Rosid Ahmad. Tampilkan semua postingan

Demi Harkat dan Martabat Guru


"Kewibawaan hanya bisa hadir bila guru punya perilaku mulia selaku pendidik dan pribadi yang layak diteladani"

Beragam kasus yang melibatkan oknum guru dan mencoreng wajah pendidik sering tersaji lewat media. Dalam hal wibawa, situasi sekolah zaman kakek-nenek kita sangat berbeda. Ibarat bumi dan langit, begitu cerita mereka selama ini. Dulu, guru amat disegani. Apa pun kata guru, murid melaksanakannya dengan patuh. Bukan berarti kita ingin kembali ke zaman kuno tapi perlu menyadari tidak semua yang kuno itu selalu buruk.

Prinsipnya, untuk bisa berkarya dengan baik, guru mesti kompeten dan berwibawa. Kewibawaan hanya hadir bila guru punya perilaku mulia selaku pendidik, dan pribadi yang layak diteladani. Agar harkat dan martabat tetap terjaga, hindari tindakan kurang terpuji dan perilaku tercela lain yang bisa merusak citra pendidik (meski itu dilakukan di luar tembok sekolah).

Sementara guna meningkatkan kompetensi diri, berbagai upaya bisa dilakukan melalui studi lanjut, ikut program pelatihan, rajin membaca, juga bertanya pada mereka yang lebih berpengalaman. Di luar itu, guru mesti berhati-hati menangani kasus kecil yang cukup mengganggu, semisal siswa menyontek tanpa risi saat ujian atau datang terlambat.

Yang cukup merisaukan, tak sedikit faktor eksternal berimbas pada guru. Beberapa kebijakan yang terkesan memanjakan murid, seperti ketentuan tak ada siswa drop-out karena biaya; siswa harus lulus maksimal; atau hukuman disiplin tak boleh terlalu keras, bisa saja mengundang masalah. Tidak jarang ini membuat guru takut memberi sanksi meski pelanggaran berat telah terjadi.

Pada dasarnya, disiplin tanpa sanksi tegas adalah non-sense, omong kosong. Bila sanksi tidak diberikan, tindakan melawan aturan, dan benih-benih korupsi akan tumbuh subur. Karena itu, ketentuan tidak boleh ada sanksi hukuman tegas terhadap pelanggar disiplin layak dipertanyakan.

Ketika perilaku siswa menyimpang dan melanggar aturan, sekolah akan memanggil orang tua untuk membahas masalah secara kekeluargaan. Sayang, teramat sering panggilan semacam itu tidak dipenuhi. Dampaknya, siswa tenang-tenang saja karena yakin tak akan ada hukuman, apalagi secara fisik.

Wibawa Hilang

Jika itu dilakukan, bisa-bisa jadi bumerang. Nasib guru (dan keluarga) menjadi taruhan. Pernah terjadi guru dilaporkan ke polisi gara-gara memberi hukuman yang dinilai terlalu keras. Padahal ungkapan ”terlalu keras” itu subjektif dan relatif, serta tidak selayaknya dipakai sebagai dasar untuk menghakimi guru.

Memang serbadilematis. Bayangkan, disiplin berkali-kali dilanggar, peringatan pun berulangkali diberikan tanpa tanggapan. Tapi ketika masalah berkembang menjadi kasus, yang ramai menjadi berita justru tentang hukuman yang dinilai berlebihan. Semua itu hanya sebagian dari dampak kebijakan yang berisiko menggerogoti wibawa guru. Banyak contoh lain bisa ditemukan dengan mudah di sekitar kita. Harus diakui, awalnya semua kebijakan itu diciptakan demi tujuan baik. Semisal, tak boleh ada anak putus sekolah karena  biaya. Tujuannya jelas mulia, membela rakyat kecil. Agar pendidikan berlangsung lancar, pemerintah memberi bantuan operasional sekolah (BOS). Jika ternyata keluarnya dana seret, itu masalah lain.

Dalam tiap kebijakan selalu terkandung celah yang bisa ditembus secara tidak bertanggung jawab. Apa yang terjadi jika pelanggaran dibiarkan berlarut-larut tanpa tindakan tegas? Boleh jadi murid lepas kendali dan situasi sekolah amburadul. Akibatnya, guru dilecehkan, wibawa guru hilang, pendidikan tidak berlangsung sebagaimana mestinya, akhirnya target pendidikan tidak tercapai.

Kiranya, lebih utama semua pihak duduk bersama guna mencari solusi terbaik. Yang pasti, untuk bisa mengajar dan mendidik dengan benar, guru mesti berwibawa. Terlepas dari masalah pergantian kurikulum dan target sekolah, kendala yang mengadang memang tidak ringan. Tapi guru yang bijak mampu bekerja secara cerdas dan optimal untuk bertahan dari gempuran beragam kepentingan. Dengan begitu mereka bisa berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Th Rosid Ahmad ; 
Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK
Kota (dan Eks Karesidenan) Semarang
SUARA MERDEKA, 17 Januari 2013


Selengkapnya.. »»  

Keberlanjutan Tantangan Guru


Dalam upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya, dari waktu ke waktu guru selalu menghadapi tantangan baru, dan makin berat. Persaingan ketat di pasar kerja, makin mahalnya biaya pendidikan, dan kehadiran beragam temuan teknologi mutakhir, ternyata melahirkan berbagai dampak.

 Tawuran pelajar yang akhir-akhir ini meningkat bukan saja frekuensinya melainkan juga alat yang dipakai, berikut tingkat kebrutalan, hanyalah salah satunya. Padahal realitasnya, saat ini internet merambah hampir semua bidang kehidupan manusia, tak terkecuali bidang pendidikan. Kepesatan pertumbuhan tersebut mesti ditanggapi secara cerdas, positif, dan ekstrahati-hati.  Tidak dapat dimungkiri, kehadiran internet bisa memberi segudang manfaat demi kemaslahatan semua pihak. Namun banyak hal yang perlu disikapi secara cerdas dan bijaksana. Pasalnya bila salah mengantisipasi bisa berakibat yang sangat destruktif, bahkan fatal: kehancuran masa depan satu generasi! 

 Faktanya, dengan berselancar di internet, kita bisa dengan mudah memperoleh beragam pengetahuan baru. Bagi siswa, cara itu sangat membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah. Sayang, dengan alasan memburu waktu dan kesulitan memproses data, banyak siswa hanya mengambil apa adanya materi dari sumber berita tanpa mengolah terlebih dahulu alias salin tempel (copy paste).

 Tindakan tersebut jelas tidak sehat dan melawan hukum. Bila dibiarkan, sama saja membimbing anak berperilaku bodoh dan tidak kreatif. Dampaknya, murid menjadi malas dan terbiasa melanggar hak cipta, suatu tindakan tercela. Masalahnya, bagaimana mencegah berkembangnya budaya salin tempel seperti itu?

Di beberapa sekolah, guru terpaksa mewajibkan murid menyerahkan tugas dalam bentuk tulisan tangan. Meski kedengarannya cukup bagus, langkah preventif tersebut juga perlu dikaji ulang. Memang, murid terpaksa bekerja ekstrakeras menyelesaikan tugas yang diemban. Tetapi pada  zaman modern ini langkah seperti itu terkesan kurang cerdas.

 Demi menghindari budaya salin tempel, guru harus cerdik dan kreatif. Agar lebih tepat sasaran, segala sesuatunya harus disiapkan dengan matang sebelum memberi tugas. Perlu penyadaran bahwa tindakan mengambil karya orang lain tanpa izin adalah sesuatu yang tidak semestinya dilakukan kalangan intelektual.

Nilai Kekeluargaan

 Dengan begitu diyakini bahwa yang dikumpulkan anak didik itu benar-benar karya ilmiah berkualitas. Sebetulnya, saat ini ada beberapa program komputer yang dapat mendeteksi plagiarisme. Kendati demikian, jauh lebih utama sekolah mampu menanamkan kesadaran agar siswa memiliki academic honesty, prinsip menyangkut tanggung jawab moral yang tumbuh mengakar.

 Guru juga harus tampil sebagai fasilitator dalam mendidik anak supaya tumbuh menjadi insan cerdas dan bertanggung jawab. Hindarkan penggunaan media informasi canggih ini untuk hal-hal negatif yang bisa mengundang masalah. Sebaliknya, penggunaan secara positif sesuai fungsinya sebagai media komunikasi andal bisa meningkatkan kualitas hidup pengguna.

 Sudah selayaknya sekolah memiliki sistem yang menekankan kerja sama harmonis antara orang tua dan sekolah, guru dan siswa. Sinergitas itu untuk memupuk siswa dari segi spiritual, moral, akademis, dan sosial. Ingat, tiap anak adalah a shining star, makhluk ciptaan Tuhan nan unik penuh talenta yang harus dikembangkan secara optimal.

Sungguh bijak jika bisa dirancang program pendidikan yang menanamkan kepedulian bersama dengan merangkul nilai-nilai kekeluargaan dan mengikutsertakan seluruh siswa dalam pendidikan yang aktif dua arah. Kehidupan komunitas sekolah perlu diperkaya dengan meningkatkan kerja sama dan hubungan harmonis antara sekolah-rumah-komunitas di luar sekolah.

Th Rosid Ahmad ; 
Alumnus Pendidikan Jurusan Bahasa Inggris
IKIP Negeri Semarang (kini Unnes),
Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK Kota dan Eks Karesidenan Semarang
SUARA MERDEKA, 29 Oktober 2012



Selengkapnya.. »»