Bermimpi Indonesia yang Jujur


Bermimpi Indonesia yang Jujur

Mimpi tentang Indonesia yang baru dimulai dari lembar jawaban ujian nasional dari tingkat SD hingga SMA sederajat tahun 2012. Dalam lembar jawaban tersebut, anak-anak diminta menyalin dengan tulisan tangan sebuah kalimat yang berbunyi, ”Saya mengerjakan ujian nasional dengan jujur.”

Tentu dengan maksud agar kalimat tersebut terpatri dalam hati sanubari siswa-siswi yang sedang mengerjakan soal ujian nasional. Dengan demikian, mereka akan mengerjakan soal dengan jujur, tidak menyontek, apalagi dengan menggunakan joki.

Ada kata bijak, verba molan scripta manent, ucapan cepat hilang, sedangkan tulisan akan terus terpatri. Ibarat pepatah belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar setelah dewasa bagai mengukir di atas air.

Inilah suatu ikhtiar yang berangkat dari kesadaran tentang betapa terpuruknya bangsa ini dan sebuah imajinasi tentang Indonesia yang lebih baik, bermartabat. Saya menyadari bahwa hal-hal besar, gagasan-gagasan brilian selalu dimulai dari mimpi. Maka, anak-anak kita diajak untuk bermimpi bahwa Indonesia yang baik itu dimulai dari sikap dan tingkah laku yang mengedepankan kejujuran.

Tentu tak ada salahnya mimpi tentang sebuah Indonesia yang baik ini dimulai dari anak-anak. Anak-anak adalah pemilik sah masa depan. Sebagai orang dewasa, kita tidak hendak mewariskan negeri yang compang-camping kepada anak cucu.

Pejabat Berjanji

Pikiran jahil dan konyol pun muncul. Apakah yang akan terjadi di Indonesia jika para pejabat melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak sewaktu mengerjakan ujian nasional itu. Para pejabat di republik ini wajib menulis dengan tangan kalimat, ”Saya akan bekerja untuk rakyat dengan jujur” di setiap surat yang mereka tanda tangani atau di bawah logo jabatan kop surat.

Saya membayangkan di bawah logo surat kepresidenan yang bergambar bintang dengan tulisan Presiden Republik Indonesia, seorang presiden menulis tangan, ”Saya akan bekerja untuk rakyat dengan jujur.”

Atau dalam kop surat milik menteri, gubernur, bupati/wali kota yang bergambar burung garuda. Di bawahnya mereka menulis tangan, ”Saya akan bekerja untuk rakyat dengan jujur.”

Demikian pula para anggota DPR wajib menulis dengan tangan kalimat tersebut di bawah logo surat mereka.

Apakah mimpi tentang Indonesia yang lebih baik akan menjadi kenyataan? Jika hal tersebut menjadi sebuah gerakan nasional yang nyata—antara yang mereka tulis dan yang mereka lakukan—Indonesia yang baik bukan sebuah mimpi.

Jujur Akan Menuntun

Anak-anak diajak untuk mengatasi solusi pelik yang menimpa bangsa Indonesia. Mereka diajak untuk mengambil bagian dengan upaya dini bersikap jujur. Padahal, mereka adalah korban dari ketidakjujuran orang-orang dewasa yang sedang menjabat.

Sekolah mereka reyot dan nyaris ambruk, tanpa perpustakaan dan laboratorium. Semua akibat yang mereka terima dari sikap tidak jujur para pejabatnya. Jika mereka sakit, orangtua mereka tidak mampu membawa ke rumah sakit karena biaya berobat sangat mahal. Lagi-lagi ini akibat dari pejabat yang tidak jujur.

Kejujuran dalam bersikap, bertingkah laku, dan dalam bertindak sudah menjadi barang langka di negeri ini. Semua sudah menjadi pembohong dan pendusta. Padahal, sifat jujur mampu membimbing orang jauh dari hal-hal buruk.

Ketika kejujuran hilang, yang timbul adalah kebohongan. Setiap satu kebohongan akan melahirkan dua kebohongan. Begitu seterusnya. Kebohongan akan lahir dan lahir selagi mereka yang tidak jujur ini bertindak. Penjara yang isinya bekas menteri, anggota DPR, dirjen, jaksa, hakim, gubernur, atau bupati/wali kota yang masih aktif adalah indikasi bahwa mereka tidak jujur mengemban amanah.

Anak-anak yang hidupnya jujur pasti sangat mudah diajak jujur. Mereka ibarat kertas putih yang polos. Namun, bagaimana jika pejabat publik yang tidak pernah jujur diajak hidup jujur? Pasti akan menjadi beban yang berat. Bagi pendusta, bersikap jujur pasti sulitnya melebihi memindahkan sebuah gunung.

Namun, siapakah yang mampu menjamin kelak mereka akan terus berperilaku jujur saat hidup bermasyarakat, saat bekerja, atau saat menjabat di tengah kondisi yang koruptif di Indonesia?

Saya bermimpi pada saat mereka tampil ke masyarakat kelak, kondisi di Indonesia sudah keluar dari keadaan yang buruk. Menjelma menjadi Indonesia yang bermartabat karena diisi oleh mereka yang hari ini menulis kalimat dalam lembar jawaban ujian nasional, mereka yang jujur dan amanah.

Semoga mimpi saya menjadi kenyataan. ●

Rumongso;
Guru SD Djama’atul Ichwan Sala, Jawa Tengah
Sumber :  KOMPAS, 16 Juni 2012



Artikel Terkait:

1 komentar:

  1. ardi pratama(mahasiswa Universitas Muhamadiyah Purworejo)Rabu, 29 Agustus 2012 pukul 14.54.00 WIT

    ya itulah negeri kita,,merekaa hanya baik waktu AKAN MENJADI setelah JADI ya lupa,,,miris melihat negeri kita ini,banyak yang membutuhkan belas kasihan dari pemerintah,namun pemerintah malah sibuk mengurussi kasus KORUPSI,kasiham mereka yang ada di pelosok negeri kita,,mereka bahkan ada yang mengantungkan diri mereka kepada negara tetangga atau belas kasihan dari negara tetangga,,Indonesia oh indonesia,semoga orang-orang yang ada di pemerintahan sana melihat betapa banyak anak-anak pejuang bangsa kelak yang sangat-sangat membutuhkan perhatian merekan untuk ambantu mereka dalam pendidikan,kesehatan,dan infrastruktur sebagai bekal membangun negara Indonesia ini di mas yang akan datang,,amiien,,,

    BalasHapus

Beri Komentar demi Refleksi