Di
banyak negara, saya sering menyaksikan siswa sekolah atau mahasiswa yang aktif
berdiskusi dengan guru atau dosennya. Persis seperti yang dulu sering kita
lihat dalam iklan margarin pada tahun 1980-an, atau gairah siswa Wellesley
College yang kita lihat dalam film Monalisa Smile.
Sewaktu
mengajar di University of Illinois, saya kerap berhadapan dengan anak-anak
seperti itu. Karena materi yang harus diajarkan begitu banyak, saya menjawab
seperti kebiasaan guru di sini. ”Sebentar ya. Biar saya selesaikan dulu.”
Namun, anakanak itu tetap tak mau menurunkan tangannya sebelum dilayani
berdiskusi.
Belakangan
saya diberi tahu bahwa pendidik yang baik harus cekatan melayani diskusi, bukan
meringkas isi buku. Seorang guru besar senior mengingatkan, ”Kami bersusah
payah mengubah satu generasi, dari TK hingga SLTA, mengubah kebiasaan siswa
yang malas berpikir menjadi aktif mengeksplorasi dengan lebih percaya diri.”
Mengapa
tradisi seperti itu tidak terjadi di sini? Bahkan di perguruan tinggi semakin
banyak dosen mengeluh bahwa anakanak sekarang tidak gemar membaca sehingga
tidak bisa diajak berdiskusi.
Dihafal, Bukan
Dipikir
Anak-anak
kita punya tradisi belajar yang sangat berbeda, yang mengakar sejak taman
kanak-kanak. Mata ajaran yang dipelajari jauh lebih banyak, tetapi tidak
mendalam. Kalau sulit, rumus yang sangat banyak dibuatkan jembatan keledai atau
singkatansingkatan agar mudah dikeluarkan dari otak.
Cara
belajar yang demikian berpotensi menghasilkan ”penumpang” ketimbang
”pengemudi”. Karena itu, banyak orang yang lebih senang duduk menunggu, hidup
”menumpang”, ”dituntun”, atau diarahkan ketimbang menjadi pengemudi yang aktif
dan dinamis.
Seperti
tampak di angkutan umum, penumpang boleh mengantuk, tertidur, terdiam, sibuk
sendiri, tak perlu tahu arah jalan, dan praktis kurang berani mengambil risiko.
Sementara pengemudi adalah sosok yang sebaliknya. Karena orangtua juga
dibesarkan dalam tradisi belajar yang sama, tradisi serupa ada di rumah. Dengan
jumlah mata ajaran yang semakin hari semakin banyak, jumlah yang dihafal siswa
di sini juga semakin memberatkan.
Perhatikanlah
bagaimana siswa berikut ini belajar. Siswa kelas I SD yang ibunya bekerja
mengucapkan kalimat ini: ”Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari
ayah-ibu dan anak-anak. Ayah ke kantor mencari nafkah, ibu merawat anak-anak di
rumah.” Anak itu sempat protes karena ibunyalah yang bekerja, tetapi ibu guru
menyatakan ”Dihafal saja karena bukunya berkata demikian”. Ibu di rumah berkata
serupa: ”Kalau engkau mau naik kelas, dihafal saja.”
Daya
kritis tidak diberi ruang, pertanyaan-pertanyaan penting yang diperlukan
manusia untuk bernalar dimatikan sedari muda. Sementara mata ajar kesenian yang
diadakan untuk merangsang daya kreasi juga distandarkan dan dihafal. Seperti
yang dialami anak-anak yang menggambar pemandangan: gunung dua berjajar,
matahari di tengah, dan seterusnya.
Hafalan
diperlukan untuk mengikuti ujian nasional dan agar diterima di perguruan tinggi
atau menjadi pegawai negeri sipil. Bahkan untuk diterima di jurusan seni rupa
sebuah perguruan tinggi negeri terkenal, ujian masuknya juga ujian menghafal,
bukan portofolio karyakarya calon mahasiswa.
Demikianlah
penumpang, sekolahnya menghafal tetapi tidak berani berbuat, apalagi menyatakan
identitas diri atau berpikir. Ini ditambah lagi tradisi membesarkan anak yang
sejak lahir tubuh dan kedua kaki-tangannya dibedong lalu digendong. Sekalipun
sudah bisa berjalan, kita selalu dituntun orang dewasa. Beda benar dengan
tradisi belajar di negara-negara yang mendorong manusianya berpikir dan
bertindak. Di negeri penumpang, wacana berlimpah, gagasan hebat mudah ditemui
di televisi, tetapi sedikit sekali kaum elite yang bergerak.
Kurikulum
Berpikir
Gagasan
merampingkan jumlah mata ajaran tentu saja tak boleh diikuti oleh rasa takut
yang berlebihan di kalangan para pendidik. Sebab, sebagaimana layaknya setiap
perubahan, maka tak pernah ada perubahan yang langsung berakhir dengan
kesempurnaan. Namun, satu hal yang pasti, seperti orang yang berfoto bersama,
maka setiap orang akan selalu melihat pada wajahnya masing-masing. Ia akan
mengatakan fotonya bagus, semata-mata kalau dirinya tampak bagus.
Bagi
saya perubahan kurikulum yang ramai diperbincangkan seharusnya dapat dilihat
pada aspek lebih luas daripada sekadar merampingkan mata ajaran. Perubahan ini
seharusnya dapat dijadikan momentum untuk melakukan transformasi diri manusia
Indonesia dari tradisi mindset ”penumpang” menjadi cara berpikir ”pengemudi”.
Transformasi ini berdampak sangat luas yang sudah pasti membutuhkan
penyempurnaan bertahap hingga ke tingkat pendidikan tinggi.
Riset-riset
terbaru menunjukkan, betapa banyak cara kita belajar sudah harus diubah. Daniel
Coyle (2010), misalnya, menunjukkan kemajuan yang dicapai dalam neuroscience
yang menemukan bahwa manusia cerdas tidak hanya dibentuk oleh memori otak,
tetapi juga memori otot (myelin ). Sementara Carol Dweck dan Lisa Blackwell
(2011) menemukan bahwa anak-anak yang secara akademik dianggap cerdas
berpotensi menyandang mindset tetap sehingga kecakapannya untuk berkembang
menjadi terhambat.
Keduanya
menunjukkan cara- cara baru membentuk mental pengemudi yang sangat dibutuhkan
untuk mempersiapkan generasi baru di abad ke-21. Jadi, terimalah perubahan dan
persiapkan lebih baik.
Rhenald Kasali
;
Guru Besar FE-UI
KOMPAS, 28
Desember 2012
Jika penerapan kurikulum 2013 dimaksudkan untuk mengubah mindset "penumpang" menjadi "pengemudi" maka hal tersebut baru akan berhasil bila format kelulusan pada UN juga diubah,tidak hanya fokus pada pencapaian kemampuan kognitif siswa saja, juga terhadap kemampuan apektif dan psikomotoriknya...
BalasHapus