DUNIA pendidikan kita masih tampak buram
sepanjang 2012. Baik capaian di bidang akademis maupun nonakademis. Yang paling
menonjol ialah data terbaru dari TIMSS (Trends in International Mathematics and
Science Studies) dan PIRLS (Progress in International Reading Literacy
Studies). Kemampuan para siswa kita di bidang matematika dan sains terus turun,
bahkan di lingkungan Asia Tenggara.
Rata-rata matematika siswa kelas VIII di
Indonesia hanya 386 dan menempati urutan ke38 dari 42 negara. Hasil sains tak
kalah mengecewakan. Indonesia di urutan ke-40 dari 42 negara dengan nilai
rata-rata 406. Di bawah Indonesia ada Maroko dan Ghana. Yang mencengangkan,
nilai matematika dan sains siswa kelas VIII Indonesia bahkan berada di bawah
Palestina yang negaranya didera konflik berkepanjangan.
Di bidang literasi, posisi Indonesia
juga masih memprihatinkan meskipun sedikit mengalami kenaikan. Siswa kelas IV
Indonesia berada di urutan ke42 dari 45 negara dengan nilai rata-rata 428. Di
bawahnya ada Qatar, Oman, dan Maroko. Rendahnya kemampuan siswa-siswa Indonesia
di matematika, sains, dan membaca juga tecermin dalam Program for International
Student Assessment (PISA) yang mengukur kecakapan anak-anak berusia 15 tahun
dalam mengimplementasikan pengetahuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan
masalah-masalah dunia nyata.
Masih terkait dengan capaian di bidang
akademis, kecurangan dalam ujian nasional (UN) juga masih menandai lemahnya
sistem evaluasi pendidikan kita. Jika dikaitkan dengan capaian di bidang
nonakademis seperti berfungsi dan tidaknya pendidikan karakter, situasinya
mungkin bisa dibilang lebih parah. Hal itu bisa dilihat dari maraknya kasus
kekerasan di sekolah, baik yang bersifat individual maupun kelembagaan.
Di Jabodetabek saja sepanjang 2012
tawuran pelajar telah menewaskan 17 pelajar. Jumlah itu sangat besar karena
mereka ialah para siswa yang notabene ialah pelajar yang tidak seharusnya
melakukan tawuran.
Belum lagi kasus-kasus terungkapnya
lembar kerja siswa (LKS) yang memasukkan gambar bintang porno Jepang, Miyabi,
serta cerita tentang poligami yang juga masuk praktik belajar-mengajar di
sekolah. Buku ajar berbahan dasar bahasa daerah bahkan juga tak luput dari
minimnya sensitivitas para pendidik kita dalam memilih bahan ajar.
Buku ajar Bahasa Jawa SD terbitan CV
Sindunata, misalnya, memuat cerita berjudul Resepe Simbah yang memuat
percakapan seorang pemuda bernama Glendhoh dengan seorang kakek bernama
Klithuk.
Pemuda itu bertanya tentang cara agar
awet muda. Sang kakek lalu menjawab, caranya dengan nyimeng (mengonsumsi
ganja), ngombe rong gendul (minum minuman keras dua botol), dan merokok
sebanyak dua bungkus dalam sehari (Tempo.co, 12 November 2012).
Masih banyak lagi potret buram
pendidikan, yang kesemuanya harus diselesaikan dalam satu tarikan napas yang
bernama sistem pendidikan.
Jika sistem harus diterjemahkan ke dalam
bentuk petunjuk operasional, konsep pengembangan kurikulum ialah salah satu
solusinya. Karena itu, rencana pemerintah mengganti orientasi kurikulum tingkat
satuan pendidikan (KTSP) dengan kembali lagi kepada pola lama, yaitu kurikulum
berbasis kompetensi (KBK), dengan titik tekan pada pembentukan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan perlu didukung semua pihak secara kritis. Salah
satu caranya ialah dengan memberikan rekomendasi perbaikan manajemen dan
leadership kepala sekolah.
Salah satu temuan menarik dari Research
Findings to Support Effective Educational Policies: A Guide for Policymakers
(2011) ialah perlunya melakukan investasi dengan mengangkat para kepala sekolah
yang memiliki visi yang baik dalam membangun budaya sekolah yang sehat. Tata
cara dan prosedur pengangkatan kepala sekolah yang diduga penuh dengan praktik
koruptif dan nepotisme harus segera dihentikan, terutama dalam rangka
mempersiapkan proses implementasi kurikulum baru.
Tanpa ada perubahan berarti pada sisi
leadership kepala sekolah dan manajemen sekolah, akan sulit mencapai target
kompetensi sikap.
Seperti diketahui, perdebatan tentang
perbedaan mendasar antara kepemimpinan (leadership), manajemen (management),
dan administrasi (administration) ialah hal biasa dan lumrah dalam ilmu
pendidikan modern. Dimmock (1999: 442) secara tegas dan menarik berusaha
membedakan ketiga kata kunci di atas dalam konteks kepemimpinan sekolah. Dalam
analisisnya, tensi di antara ketiga kata kunci itu terlihat pada aspek yang
ditanganinya. Jika titik tekan leadership ialah pada pengalaman dalam mengambil
keputusan secara seimbang antara aspek pengembangan kapasitas serta student and
school performance, manajemen lebih berorientasi pada aspek operasional dan
pemeliharaan (fi sik dan nonfi sik) kondisi sekolah.
Administrasi ialah fungsi yang melekat
baik pada aspek leadership maupun management karena orientasinya lebih banyak
pada hal-hal teknis yang rutin dan sangat dibutuhkan keduanya. Dari sudut
pandang pedagogis, jelas sekali perebutan kewenangan antara leadership dan
management kerap terjadi dan berlangsung secara terus-menerus. Keuntungan
leadership ialah dapat mengambil bentuk lain dan keluar dari faktor management
yang kerap dilingkupi sebuah proses dan prosedur yang kaku sehingga leadership
bisa secara bebas dinilai berdasarkan pe ngaruh sosial yang dimilikinya.
Dalam konteks implementasi kurikulum
baru, definisi leadership dalam konteks pendidikan dikatakan berhasil jika
pengaruh (influence) seorang kepala sekolah secara sosial dan individual tetap
hidup dalam pikiran dan perilaku banyak orang, terutama guru dan siswa (Yukl,
2002:3). Dalam skala yang lebih kecil, seorang kepala sekolah dapat dikatakan
memiliki pengaruh yang kuat bagi para guru lainnya jika mereka mampu menebarkan
ide dan gagasan yang terus hidup di hati dan pikiran rekan sekerjanya. Selamat
tahun baru 2013, semoga dunia pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.
Ahmad
Baedowi ;
Direktur
Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
MEDIA
INDONESIA, 31 Desember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Beri Komentar demi Refleksi