Tampilkan postingan dengan label Sidharta Susila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sidharta Susila. Tampilkan semua postingan

Guru Berkarakter Laut

Sadar bahwa keberdayaan dan kebermaknaan hidup meniscayakan merawat keberagaman, guru berkarakter laut niscaya bagi pendidikan. Guru adalah lentera kehidupan dalam keberagaman. Ia suluh bagi anak didiknya untuk mengakrabi keberagaman suku, agama, dan ras, hingga menekuninya di jalan yang terang.
Akan tetapi, bukan keberagaman itu saja. Guru menjadi suluh atas keberagaman kondisi jiwa anak didiknya. Kompleksitas kehidupan, kemiskinan, pergaulan yang anyir oleh pembiaran beragam kekerasan, dan rapuhnya bangunan keluarga inti adalah keberagaman yang nyata pula.
Ketakberdayaan guru membangun karakter laut seringkali membuatnya gagal menjadi suluh kehidupan. Kita bisa merasakannya pada cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul Pelajaran Mengarang (Kompas, 5/1/1992).
Pada cerpen itu dikisahkan ibu guru Tati gagal menampung jiwa keruh Sandra muridnya. Ia justru uring-uringan karena setelah lewat empat puluh menit Sandra belum menuliskan ceritanya. Ia gagal menyerap pergulatan dan kegundahan jiwa muridnya. Sandra harus menuliskan cerita bertema ”Keluarga Kami yang Berbahagia”, atau ”Liburan ke Rumah Nenek”, atau ”Ibu”.
Bagi Sandra, itu tema yang sulit. Penyebabnya bukan karena Sandra tidak punya bahan untuk diceritakan, tetapi apakah kisahnya pantas dibaca gurunya. Pasalnya, Sandra anak seorang pelacur.
Tentang keluarga, Sandra mengalami suasana rumah yang berantakan, pengalaman bersama tamu-tamu mamanya yang dilayani di rumah. Tentang nenek, yang ia tahu adalah ibu menor di rumah kerja mamanya, yang sering dipanggil mami. Tentang ibu, ia punya banyak pengalaman dimaki ibunya setiap kali menanyakan tentang ayah dan pekerjaan mamanya.
Akhirnya Sandra hanya menulis sepotong kalimat: Ibuku seorang pelacur.  Dikisahkan ibu guru Tati berkesimpulan bahwa anak didiknya memiliki pengalaman masa kanak- kanak yang indah. Akan tetapi, ia belum sampai pada tulisan Sandra.

Karakter laut
Laut itu tak pernah menolak. Ia tampung apa saja ragam air yang mengalir padanya. Ia biarkan aneka air itu tinggal bersamanya. Bergulat bersamanya. Pada saatnya, karena terik matahari, air itu dibiarkan meninggalkannya hanya sebagai butir-butir air. Ya, hanya butir air, tanpa kotoran yang melekatinya saat memasuki laut.
Pendidikan yang dikelola oleh pendidik berkarakter laut sadar akan beragam kondisi para muridnya. Bukan hanya tampilan fisik yang disadari sebagai keberagamannya. Dalam kompleksitas kehidupan di negeri ini, beragam penggurat jiwa anak didik yang mesti disadari adalah meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga, rapuhnya pengelolaan keluarga inti, kemiskinan, tidak mencukupinya persiapan membangun keluarga, kian menggilanya penistaan nasib janin dan bayi baru lahir, hingga pembiaran kekerasan SARA oleh negara.
Jiwa dan nurani anak-anak yang hadir di sekolah seringkali sarat beban. Bahkan seringkali mereka adalah representasi anak bangsa tak bertuan. Mereka hidup dalam belantara yang dipenuhi serigala kehidupan berbulu domba. Pemerkosaan anak oleh orang dewasa terdekat adalah kasusnya.
Libido kekuasaan yang kian tak terkendali seringkali memanfaatkan anak-anak dan pendidikan. Mereka dimanfaatkan bukan demi sesuatu yang substansi, tetapi semata-mata kontestasi demi membangun citra diri. Anak-anak hanyalah obyek.

Guru berkarakter laut
Sayangnya, seringkali para guru/pendidik juga telah sarat beban. Aneka pesanan pengelola lembaga pendidikan seringkali telah membutakan mata pendidik hingga tak mampu mengenali realitas kehidupan anak didiknya. Yang paling parah, seperti pada kisahPelajaran Mengarang itu, guru seringkali alergi hingga menolak realitas anak didik yang diwarnai ketidakwajaran normatif dan agamis. Guru pun hadir sebagai sosok yang gagap. Bukannya bersikap asertif menerima layaknya laut, ia justru menolak.
Kita terus memimpikan pendidikan yang kontekstual. Kita bermimpi terselenggaranya pendidikan yang tidak terasing dengan realitas kehidupan. Namun, kita juga berjuang untuk menjauhkan ragam upaya indoktrinasi dan pencucian jiwa serta nalar demi hasrat pribadi/kelompok.
Kita bermimpi pendidikan mampu memurnikan anak didik menjadi ciptaan yang unik. Seperti air sungai kotor yang akhirnya menguap sebagai hanya butir air setelah tiba di laut.
Awal tahun pembelajaran ini, demi keindonesiaan kita yang tertakdir beragam, juga sadar akan keberagaman aktual kondisi anak didik kita, beranikah para guru/pendidik berjiwa laut?
Dengan melepaskan hasrat dan ambisi pribadi yang menepikan keunikan pribadi dan keberagaman? Dengan terbuka menerima anak didik tanpa curiga dan kebencian, menyingkirkan watak jijik apalagi alergi pada liyan yang tak sepaham?
Pendidik yang tak berkarakter laut pastilah miskin pergulatan. Jiwanya melarat, bahkan beku. Padahal di situlah kekayaan sejati pendidik yang tak pernah terbeli

Sidharta Susila ;  
Pendidik
KOMPAS, 30 Juli 2013



Selengkapnya.. »»  

Guru di Negeri Nihil Pemimpin

Dengan terus merawat harapan, pendidikan itu merawat kehidupan. Gurulah aktor utamanya. Harapan meretas batas-batas kehidupan, meringkihkan tempurung kehidupan. Harapan membuncahkan hasrat anak didik untuk meraih hidup yang berbeda, termasuk hasrat untuk menjadi seorang pemimpin.

Sayangnya, saat ini anak-anak kita tidak ada di saat dan tempat istimewa untuk menumbuhkembangkan benih kepemimpinan. Nihilnya sosok pemimpin yang konsisten merupakan salah satu ketidakberuntungan mereka. Akibat nihilnya model, benih karakter kepemimpinan anak-anak kita tidak ada di saat dan tempat yang istimewa.

Nihilnya pemimpin diekspresikan dengan jengahnya kita oleh tiadanya keteladanan pemimpin. Pada ekspresi itu juga sesungguhnya kita haus akan pemimpin yang konsisten.

Namun, kata Emha Ainun Najib pada ”Bincang Sore” (14/5) di TVRI Yogyakarta, salah kita sendiri yang memperlakukan para pejabat dan tokoh publik itu sebagai pemimpin. Budayawan ini mengajak mengkritisi persepsi kita tentang pemimpin.

Pemimpin sejati adalah mereka yang hidupnya konsisten sehingga menjadi teladan. Kalau hidup mereka tak bisa menjadi teladan, ya jangan jadikan dan anggap mereka sebagai pemimpin. Siapa saja yang bisa menjadi teladan, merekalah pemimpin sejati hari-hari ini.

Tantangan bagi guru
Sepertinya sederhana mengikuti gagasan Emha Ainun Najib itu. Namun, sesungguhnya tidak demikian bagi para guru kita hari-hari ini. Belajar dari sejarah perguruan Bangau Putih: ”Intinya, ilmu terjadi karena kenyataan di alam, dan ilmu hanya sempurna apabila bisa dipulangkan kepada kenyataan alam. Di situ juga terdapat kewajiban bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Kita terlibat dengan masyarakat dan kehidupan. Karena itu, memulangkan ilmu kepada alam harus melewati masyarakat dan kebudayaan.” (Mind Body Spirit: Aku Bersilat, Aku Ada, 2013, 18).

Pendidikan yang memberdayakan hidup, yang membuat manusia kian berbudaya dan bermartabat, mesti berangkat dengan menggulati dan mengolah realitas kehidupan. Di akhir proses pembelajaran, guru bersama anak didik menentukan disposisi batin dan hidup yang merupakan kristalisasi pergulatan pada realitas kehidupan. Disposisi itu mesti menerbitkan ruang eksplorasi hidup yang berpengharapan dan bermartabat. Idealisme pun akhirnya bakal lahir.

Realitas kehidupan negeri ini yang nihil pemimpin acapkali memojokkan para guru. Di satu sisi mereka harus memperjuangkan rasa bangga dan cinta pada negeri ini, bukan hanya bangga dan cinta pada alamnya yang kaya nan subur, tetapi juga pada bangsanya yang unggul.

Namun, mencari sosok pemimpin dan tokoh publik yang unggul di negeri ini bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Banyak artis yang lama digandrungi dan dijadikan model manusia unggul generasi muda negeri ini tiba-tiba terjerat kasus. Bisa narkoba, bisa lainnya.

Demikian juga dengan para tokoh politik, lebih-lebih politisi muda. Tokoh yang sering mencitrakan diri alim penuh simbol agamis, bersih dan pejuang garang kebenaran, terjerat kasus korupsi. Kelihaian para pembela politisi koruptor kian membuat gersang negeri ini bagi tumbuhnya benih kepemimpinan.

Mencipta ruang istimewa
Kita amini gagasan Emha Ainun Najib bahwa siapa saja yang bisa menjadi teladan kehidupan sesungguhnya merekalah pemimpin kita hari-hari ini. Pemimpin tidak selalu identik dengan jabatan publik dan politis.

Benih karakter kepemimpinan butuh ruang berperistiwa. Bagi kaum muda sekolah adalah ruang berperistiwa mereka. Sekolah mesti menjadi oase di tengah padang kehidupan yang nihil pemimpin sejati. Para gurulah salah satu harapan pencipta oase itu agar benih karakter kepemimpinan generasi muda kita tidak musnah percuma.

Sadar akan hal ini, sesungguhnya inilah saat ketika para guru dipanggil untuk menyelamatkan bahtera negeri ini. Kita butuh para guru yang berani menjadi manusia unggul. Keberanian para guru menjadi manusia merdeka, bebas dari belenggu pencitraan dan ragam perbudakan birokratis, pastilah akan menciptakan ruang istimewa bagi tumbuhnya benih kepemimpinan anak didiknya. Ekspresi hidup yang sederhana pastilah menjadi lentera bagi jiwa kepemimpinan anak didiknya.

Sidharta Susila   
Pendidik
KOMPAS, 07 Juni 2013



Selengkapnya.. »»  

Guru Mbeling


   Bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum 2013 sudah beres. Akan tetapi, bagi sejumlah pengamat dan kelompok peduli pendidikan, kurikulum ini masih perlu dikritisi serta disempurnakan. Beberapa di antaranya bahkan secara tegas menolak.

 Siapkah para guru menerapkan kurikulum ini? Rasanya kita butuh guru-guru mbeling ketika menerapkan Kurikulum 2013.

 Istilah mbeling yang berasal dari bahasa Jawa menyiratkan sifat nakal, suka memberontak terhadap kemapanan, dan sering kali melakukan tindakan di luar kebiasaan. Namun, mbeling berbeda dengan asal-asalan. Pada mbeling terkandung unsur kesadaran, nalar, serta tanggung jawab atas ekspresi mbelingnya. Mbeling dipilih demi memperjuangkan hal-hal yang prinsip. Pada mbeling sesungguhnya mensyaratkan kesadaran, kecerdasan, otentisitas, tanggung jawab, serta keberanian.

 Sikap mbeling sering kali dipilih bukan demi kepentingan diri semata. Sikap mbeling sering kali justru dipilih untuk memperjuangkan dan merawat kehidupan. Karena itu, mbeling sering kali menjadi ekspresi panggilan jiwa untuk memperjuangkan prinsip dan merawat kehidupan.

 Guru mbeling adalah guru yang sadar akan panggilan jiwanya sebagai pendidik. Guru mbeling sadar akan hal-hal yang membatasi kreativitas dan perjuangan mendidik dengan benar serta bertanggung jawab. Demi prinsip pendidikan, martabat, dan panggilan jiwanya sebagai pendidik, ia berani bersusah-susah dan memperjuangkan pembelajaran di luar kebiasaan.

 Dunia pendidikan bertaburan guru mbeling. Dari merekalah kini kita bisa beroleh inspirasi serta terobosan-terobosan pembelajaran. Cara didik Anne Sullivan terhadap Helen Keller adalah salah satu contohnya. Kembelingan Anne Sullivan tidak hanya menyelamatkan Helen Keller. Mereka melahirkan metode pembelajaran yang mencerahkan nasib berjuta anak buta dan tuli.

 Guru Erin Gruwell pada film Freedom Writers adalah contoh lain guru mbeling. Sikapnya yang pantang menyerah terhadap kelasnya yang urakan dan mencekam, serta pesimisme rekan guru di sekolahnya, membuat tubuhnya dilimpahi adrenalin. Ekspresi mbelingnya mewujud dalam keberanian menentukan formasi tempat duduk para muridnya, membuat dinamika kelompok untuk mencairkan ketegangan, juga kreativitasnya menuntun para murid untuk mencairkan beban hidup lewat penulisan buku harian. Buah laku mbeling Erin Gruwel adalah solidaritas dan gairah belajar para muridnya.

 Ada juga Mr Sosaku Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen tempat Totto-chan belajar (pada novel Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela). Sikap mbelingnya menciptakan kesempatan belajar bagi banyak anak ”aneh” yang karena ”keanehannya” tak punya tempat belajar di sekolah ”normal”.

 Keberanian Mr Kobayashi meramu model pembelajaran yang tidak biasa pada masa itu adalah ekspresi sikap mbelingnya yang nyata. Di Indonesia, pendidik mbeling pernah hadir pada sosok Romo Mangun dengan SD Mangunannya itu.

Konteks Kurikulum 2013

 Guru mbeling nan unik lainnya adalah Wei Minzhi pada film Not One Less. Ia guru pocokan. Usianya 13 tahun. Guru Wei akhirnya mbeling karena harus mencari Zhang Huike, murid bengal yang terpaksa harus ke kota demi mencari uang untuk pengobatan ibunya. Seperti digagas Emmanuel Levinas, perlahan, tahap demi tahap, nurani guru Wei terkoyak oleh paparan duka muridnya. Koyakan nurani yang serentak menuntut tanggung jawab moral itulah yang menjadikan guru Wei mbeling.

 Opini mengenai Kurikulum 2013 yang telah banyak dibahas di Kompas mestinya memancing sikap mbeling para guru di negeri ini. Sejumlah alasan mestinya mengoyak nurani pendidik dan serentak merasa dituntut ikut bertanggung jawab. Sebutlah, misalnya, analisis Kurikulum 2013 yang absurd, tidak menampung keinginan tahu, pembentukan sikap kritis, pendangkalan materi, kelemahan pembelajaran bahasa, hingga kurang matangnya program pelatihan (Kompas 22/2; 24/3).

 Memang tidak mudah membuat kurikulum yang sempurna. Karena itu, seperti kata Anita Lie (26/2), hendaklah guru sadar bahwa ia harus menjadi sopir yang baik saat mengemudikan Kurikulum 2013 kelak. Hanya sopir yang baik yang dapat membawa penumpang (baca: murid) sampai di tempat yang benar dengan selamat.

 Sesungguhnya guru yang berperan sebagai sopir yang baik bagi kurikulum yang masih ditemukan banyak kelemahan meniscayakan keberanian, kecerdasan, tanggung jawab moral, bahkan kepiawaian mengemudikan dengan cara-cara yang tidak biasa. Itu artinya, demi suksesnya Kurikulum 2013 guru negeri ini wajib mbeling.

 Beranikah para guru kita bersikap mbeling dalam mengemudikan Kurikulum 2013? Improvisasi dan ragam pembelajaran mbeling sering kali tak mudah dilakukan di negeri ini. Salah satu hadangan berat adalah ketika pada akhirnya harus menjalani perhelatan ujian nasional. Pembelajaran mbeling, meski demi kepentingan anak didik, akhirnya menjadi pertaruhan.

 Masih berani menjadi guru mbeling?

Sidharta Susila  ; 
Pendidik: Tinggal di Muntilan, Magelang
KOMPAS, 07 Maret 2013

Selengkapnya.. »»  

Pendidikan Jujur yang Membebaskan


Apa yang bisa mengguncang institusi pendidikan prestisius? Ternyata bukan nilai, sarana-prasarana, atau dana, tapi ketidakjujuran.

Itulah yang terjadi di Universitas Harvard, AS, yang prestisius itu. Baru-baru ini Harvard terguncang hebat oleh skandal ”nyontek” yang melibatkan sekitar 125 mahasiswa dalam mata kuliah pemerintahan.

Sesungguhnya penulis rindu guncangan semacam itu juga terjadi dalam pendidikan kita. Guncangan karena skandal ”nyontek” justru menunjukkan penyelenggara pendidikan teguh memperjuangkan martabatnya. Kejujuran harga mati, martabat, sekaligus roh pendidikan. Sebaliknya, menutup-nutupi fakta ketidakjujuran dan beragam dinamika pendidikan manipulatif tindakan pembusukan dunia pendidikan dan penghancuran bangsa.

Alasan Mencontek
Ada banyak alasan mengapa siswa/mahasiswa mencontek. Pada kasus Harvard, pencontek- an dilakukan puluhan atlet universitas itu. Diduga, seperti banyak perguruan tinggi lain, Harvard memberikan keringanan bagi para atlet mahasiswa. Dalam konteks ini, mencontek terjadi karena pencontek tak ada di tempat belajar yang tepat. Pembelajar harus mempertimbangkan kultur dan dinamika tempat belajarnya agar terhindar dari tekanan terlampau tinggi karena tuntutan institusi pendidikan di luar kemampuannya. Sekolah/universitas yang ”bagus dan baik” belum tentu berguna bagi semua pembelajar.

Tekanan yang terlampau berat juga terjadi karena tuntutan prestasi/nilai. Tuntutan itu bisa datang dari orangtua atau lembaga. Sesungguhnya tak selalu salah menuntut pembelajar mendapat prestasi tinggi asal lembaga pendidikan sungguh-sungguh menekankan dan menghargai proses. Nalarnya: kalau semua proses pendidikan berjalan dengan baik, akuntabel, dan transparan, nilai/prestasi yang baik akan terjadi dengan sendirinya.

Sayangnya, pendidikan kita telah mengabaikan proses. Akibatnya sebagian besar pembelajar di negeri ini tak memiliki kepercayaan diri. Ketika penulis bertanya kepada para murid tentang alasan mereka sulit mengendalikan dorongan spontan untuk tidak mencontek adalah nihilnya kepercayaan diri. Sejak SD mereka tak pernah mengalami nikmatnya belajar, indahnya belajar dengan menekuni proses. Lebih parah lagi, guru mereka tak banyak menghargai, apalagi mengajarkan proses belajar.

Kita bisa memahami pengakuan para murid itu ketika menyadari rendahnya kompetensi guru. Kian jarangnya digunakan soal-soal uraian dalam ujian adalah petunjuk lain. Pragmatisme pembelajaran yang berjiwa hedonis dengan menjadikan nilai ujian sebagai penentu prestasi pantas kita pertimbangkan juga. Padahal, banyak pembelajar sesungguhnya unggul dalam mengerjakan tugas harian (proses), tetapi ringkih saat ujian karena kurang percaya diri. Di sini kita mestinya sadar, para pencontek itu adalah korban dinamika pembelajaran yang pragmatis-hedonis, mengabaikan proses, tidak transparan dan akuntabel.

Kita juga mesti merenung jujur: tidakkah dinamika pendidikan yang begitu memuja pencitraan dan beragam tindakan manipulatif hanya akan melahirkan generasi pencontek? Apalagi bila dinamika semacam itu justru difasilitasi dan dimobilisasi lembaga pemerintahan-negara. Itu sebuah pelanggaran hak asasi manusia yang serius, sistematis, dan kejam, tetapi terjadi dalam sunyi. Lebih parah lagi, ini efektif menghancurkan eksistensi bangsa kita karena pada saatnya negeri ini akan diurus generasi nihil kepercayaan diri.

Pembelajar Jujur
Pendidikan jujur niscaya demi menjaga eksistensi bangsa ini dalam percaturan dunia. Pendidikan jujur meniscayakan dinamika pembelajaran yang menekankan dan menghargai proses, transparan, serta akuntabel. Dinamika pendidikan semacam itu membantu pembelajar mengalami apa yang oleh Paulo Freire disebut humanisasi.

Dalam humanisasi, manusia dibantu menyadari keterbatasannya dengan praksis. Pendidikan yang menekankan dan menghargai proses membantu pembelajar menyadari keterbatasannya hingga sanggup mengatasi situasi yang membatasinya itu.

Karena itu, pembelajar perlu dibantu memilih institusi belajar yang memiliki kultur dan dinamika pembelajaran yang cocok baginya. Tujuannya agar pembelajar mampu berproses. Ia mampu nyaman dengan dirinya, menentukan target prestasi yang terukur, serta melakukan dinamika proses pembelajaran yang unik untuk mencapai target itu. Pada akhirnya ia terbantu untuk memiliki banyak pengalaman sukses dan melampaui keterbatasan-keterbatasan yang disadarinya. Inilah jalan melahirkan generasi berkarakter dan jujur.

Beragam pencitraan dan kastanisasi pendidikan yang memengaruhi perekrutan pembelajar perlu dipertimbangkan. Institusi pendidikan sebaiknya merekrut mereka yang mampu belajar sesuai kultur institusinya. Sekolah/ universitas dibangun untuk pembelajaran, bukan gerombolan

Sidharta Susila ; 
Pemerhati Pendidikan; Tinggal di Muntilan, Magelang
KOMPAS, 29 Oktober 2012


Selengkapnya.. »»  

Guru yang Membebaskan


Guru itu lentera kehidupan. Perjumpaannya bersama para murid adalah perjumpaan yang mencerahkan. Guru hadir menyingkapkan tabir gelap para muridnya dengan ilmu dan tubuhnya. Pendeknya, hidup guru adalah lentera bagi para muridnya.

Hal itu penulis sadari ketika membaca kisah-kisah guru kehidupan. Pada buku Tokoh + Pokok (2011), Goenawan Mohamad menulis kisah guru-guru besar negeri ini. Ada kisah tentang Kartini yang kental dengan tema ”Habis Gelap Terbitlah Terang”, juga Hatta atau Sjahrir. Tokoh-tokoh ini menginspirasi kehidupan bangsa kita hingga hari ini.

Ada yang sama dari kisah mereka. Ketiga tokoh itu mengalami masa-masa kehidupan yang sulit. Mereka punya pengalaman ketertindasan sebagai manusia, terlebih sebagai bangsa. Yang menarik, dan mungkin yang membuat mereka berbeda, adalah mereka tak hanyut oleh nestapa. Masa sulit dan penindasan justru memantik semangat juang mereka untuk menggapai kehidupan yang lebih cerah. Lebih mengagumkan lagi adalah mereka peduli dan berjuang untuk mencerahkan sesama.

Pada peristiwa itu kita belajar bahwa situasi sulit, bahkan ekstrem sulit, kadang berguna bagi proses pencerahan. Dalam situasi hidup yang tidak ideal itu seseorang seperti bertarung dan diseret hingga sampai pada kesadaran diri terdalamnya. Memang ia bisa menyerah dan musnah. Namun, ketiga tokoh kita itu menunjukkan kemungkinan lain, yaitu berpikir dan bertindak yang lain demi menggapai pencerahan diri dan bangsanya. Di sini kita belajar: kehidupan yang tidak ideal adalah ruang dan saat yang istimewa bagi seorang pendidik.

Kreatif dalam Keterbatasan
Kisah para guru Laskar Pelangi menunjukkan hal serupa. Kehidupan yang sulit terkadang justru menuntun para guru untuk menemukan kemungkinan lain dalam mendidik dan mencerdaskan anak didiknya.

Hingga hari ini kita selalu saja dibuat kagum dengan cara-cara sederhana tetapi cerdas dari para guru di tempat pembelajaran yang sulit untuk mencerdaskan para muridnya. Itulah yang sering ditunjukkan para guru kreatif. Keterbatasan justru sering menjadi ruang yang menantang sekaligus menuntun mereka untuk menemukan metode pembelajaran yang terbaik.

Di sini kita belajar, pergulatan guru menerabas kehidupan yang sulit, tertindas, dan menantang adalah berkat bagi kehidupan, khususnya dunia pendidikan. Para guru yang berhasil menerabas kesulitan hidup dengan tetap merawat idealisme sebagai pendidik pada akhirnya memuncratkan gairah hidup dan mencerahkan kehidupan. Itu tak mengherankan karena para guru semacam itu hidupnya dilimpahi semangat juang. Ia memompa daya juang dan menolak menjadi pecundang kehidupan.

Jiwa guru yang menolak dipecundang realitas kehidupan yang pahit pada akhirnya menyengat jiwa anak didiknya. Menolak dipecundang adalah ekspresi tentang berpikir yang lain (alternatif). Dengan sikap itu seorang guru tidak mudah tunduk, kalah, dan menyerah. Ia tetap mampu menjadi orang bebas yang berpegang teguh pada prinsip dan idealisme.

Sampai di sini kita menyadari, guru yang bebas adalah guru yang mampu berpikir serta bersikap yang lain tentang realitas hidupnya yang sulit. Lalu mereka memperjuangkan sikapnya dengan sebuah aksi nyata. Pelan-pelan ia kian membadankan karakter sebagai manusia bebas itu hingga menjadi spontanitas ekspresi hidupnya. Guru-guru semacam itu bakal menyalakan api kerinduan jiwa akan kebebasan yang menuntun kita untuk berpikir yang lain.

Negeri ini butuh guru-guru semacam itu. Guru yang berlimpah semangat juang, menolak menjadi pecundang, teguh pada idealisme, hingga mampu menawarkan dan melakukan yang lain. Guru semacam itulah yang bakal terus menggulirkan kehidupan.

Sidharta Susila ;
Pemerhati Pendidikan; Tinggal di Muntilan, Magelang
KOMPAS, 27 September 2012


Selengkapnya.. »»