Tampilkan postingan dengan label Suyanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suyanto. Tampilkan semua postingan

Katup Pengaman Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 pasti dilaksanakan di sekolah-sekolah di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun ajaran baru ini pada pertengahan Juli. Meskipun demikian, sekolah-sekolah di bawah koordinasi Kementerian Agama belum akan melaksanakannya.

Kemenag tampaknya sangat mendengarkan saran para pakar pendidikan—juga para tokoh masyarakat penyelenggara pendidikan swasta—di negeri ini agar pelaksanaan Kurikulum 2013 terlebih dahulu diawali dengan mempersiapkan daya dukung Kurikulum 2013. Hal tersebut terutama dalam bidang sumber daya manusia, seperti guru, kepala sekolah, dan pengawas.

Perbedaan pandangan antara Kemenag dan Kemdikbud itu justru bagus, dalam arti nanti bisa dinilai kisah suksesnya dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Penilaian tersebut nantinya akan bisa menjadi pelajaran berharga manakala kita harus mengimplementasikan sebuah kurikulum baru.

Kurikulum 2013 memang belum disosialisasikan secara intensif; yang ada baru uji publik melalui berbagai media dan forum pertemuan. Sosialisasi tentu berbeda dengan uji publik. Sosialisasi lebih bersifat mengenalkan konsep yang telah kuat dan siap dilaksanakan setelah melalui berbagai uji publik agar konsep Kurikulum 2013 benar-benar telah mantap dilihat dari berbagai aspek. Sebutlah aspek pedagogi, pendekatan, kesiapan buku, guru, kepala sekolah, alat evaluasi, bahkan pemerintah daerah sebagai unsur pemerintahan yang akan melaksanakannya di era desentralisasi seperti saat ini.

Pertanyaannya, apakah jika demikian Kemdikbud tidak mendengarkan berbagai usulan dan kritik dari masyarakat? Kemdikbud juga mengakomodasi berbagai saran dari berbagai pihak. Namun, saran untuk menunda pelaksanaan kurikulum sampai tahun depan, sebagaimana yang telah diputuskan Kemenag, memang tidak. Meski demikian, Kemdikbud rela menurunkan target pelaksanaan yang awalnya sangat ambisius menjadi target yang sangat kecil dibandingkan dengan cita-cita awal, yaitu 30 persen dari total SD serta seluruh SMP dan SMA/SMK. Bila dilaksanakan, target itu akan melibatkan 44.606 SD, 35.596 SMP, dan 22.251 SMA/SMK, paling tidak 676.414 guru untuk ditatar dalam waktu singkat, serta sekitar 78 juta buku harus dicetak dan didistribusikan.

Setelah melalui berbagai kritik baik yang pedas maupun yang halus dan santun, akhirnya Kemdikbud sadar, cita-cita untuk melaksanakan Kurikulum 2013 secara masif tidaklah mungkin. Akhirnya, sampailah pada target yang sangat lebih masuk akal dan realistis, yaitu hanya meliputi 6.325 sekolah untuk seluruh jenjang (SD 2.598, SMP 1.436, SMA 1.270, SMK 1.021), dengan jumlah rombongan belajar 14.805, jumlah guru hanya 55.762 orang, dan jumlah buku yang harus dicetak dan didistribusikan turun drastis: tinggal 9.767.280 eksemplar.

Kunci sukses

Pertanyaan implementatif yang harus dijawab, siapa saja pemegang kunci sukses terpenting dalam pelaksanaan Kurikulum 2013? Jawabnya: guru. Jadi, guru merupakan unsur terpenting dari pemangku kepentingan pendidikan dalam konteks implementasi Kurikulum 2013.

Karena itu, guru harus ditatar dan memang akan ditatar selama enam hari kerja sebelum melaksanakan Kurikulum 2013. Siapa saja yang menentukan sukses dalam pelatihan guru? Kunci sukses pelatihan guru itu akan terletak pada 60 narasumber nasional yang akan memberikan penyegaran kepada 372 instruktur nasional. Kemudian, secara hierarkis 372 instruktur nasional itu akan memberikan pelatihan kepada 3.036 guru inti.

Di tangan guru inti inilah, keberhasilan mengubah cara berpikir para pelaksana Kurikulum 2013 akan bergantung. Pada lapis paling akhir, guru inti tersebut akan melatih 6.325 kepala sekolah dan pengawas yang sekolah mereka terpilih jadi target pelaksanaan Kurikulum 2013 beserta 55.762 gurunya sekaligus.

Dari tugas pelatihan itu, yang penting adalah harus mampu mengubah cara pandang guru untuk bisa berpikir dengan cara, metode, dan evaluasi yang baru sesuai tuntutan Kurikulum 2013. Tugas paling berat ialah melatih para guru SD, yang pada kurikulum baru ini mengalami perubahan pendekatan pembelajaran secara signifikan: dari pendekatan bidang studi beralih ke pendekatan tematik integratif.

Dalam proses belajar, orang selalu dilibatkan dalam tiga kegiatan utama: to learn (belajar); to relearn (belajar kembali); dan to unlearn (melupakan). Dari tiga kegiatan itu, yang paling sulit dilakukan adalah to unlearn. Guru SD bertahun-tahun memiliki pengalaman dan pengetahuan lama mengenai kurikulum dengan pendekatan bidang studi. Tantangan bagi guru inti ketika melatih mereka adalah mampu tidak mengubah cara pandang guru SD dari pembelajaran bidang studi menjadi pembelajaran tematik integratif. Pertanyaan itu adalah persoalan how to unlearn dalam teori pelatihan dan pembelajaran modern. Hal itu jauh lebih sulit dilakukan daripada how to learn dan how to relearn.

Pendampingan

Kalau pelatihan tidak bisa mengubah pola pikir dan cara pandang para guru, katup pengaman terakhir terletak pada pendampingan di kelas ketika para guru mengajarkan kurikulum baru nanti. Pendampingan akan efektif untuk membelajarkan para guru dalam melaksanakan Kurikulum 2013.

Para pendamping nanti akan jadi model bagi guru pelaksana Kurikulum 2013 di kelas. Karena itu, tim pendamping Kurikulum 2013 yang terdiri atas kepala sekolah inti, pengawas inti, dan guru inti akan menjadi katup pengaman strategis bagi sukses implementasi Kurikulum 2013.

Apa lagi pemegang kunci sukses Kurikulum 2013? Jawabnya adalah pengadaan buku. Buku ajar, buku pedoman, dan juga buku mengenai dokumen kurikulum. Itu semua sangat penting bagi guru yang akan melaksanakan kurikulum. Jika buku-buku itu datang tidak tepat waktu, dijamin para guru akan panik dan tidak percaya diri dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Karena itu, jangan sampai distribusi buku mengalami keterlambatan seperti distribusi soal UN yang baru lalu.

Suyanto  ;    
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta
KOMPAS, 08 Juli 2013
  


Selengkapnya.. »»  

Guru dalam Pembelajaran


 Kompas telah beberapa kali menurunkan tulisan di kolom Opini mengenai guru dengan berbagai dimensi dan keunikan perannya dalam proses pendidikan dan/atau pembelajaran di kelas. Banyak pujian, ekspektasi, dan bahkan kritik di sana- sini terkait peran guru dalam proses dan hasil pembelajaran.
 Apalagi dengan akan diimplementasikannya Kurikulum 2013 pada Juli nanti, diskusi tentang peran profesi guru serasa tidak akan ada habisnya. Mengapa begitu? Karena guru memegang kunci utama dalam suksesnya sebuah implementasi kurikulum.
 Guru yang baik (profesional) akan mampu dan sanggup mengubah kurikulum yang tidak jelas dan amburadul sekalipun menjadi sebuah program pembelajaran yang bermakna bagi para siswa. Apalagi, kalau ada tandem positif antara guru yang baik dan kurikulum yang jelas arahnya dan baik, tentu proses pembelajaran akan berjalan dengan tanpa cacat cela, baik secara substantif, metodologis, maupun pedagogis.
 Sebaliknya, guru yang tidak baik dan tidak profesional dapat dipastikan akan merusak kurikulum. Di tangan guru yang tidak profesional, kurikulum yang telah dengan sempurna dirancang dan dikembangkan akan berubah menjadi sebuah proses pembelajaran yang hanya merupakan ritual membingungkan. Tidak jelas dan membosankan bagi para siswa, yang pada akhirnya siswa tidak akan bisa mencapai, baik kompetensi inti maupun kompetensi dasar, suatu tema pembelajaran.
 Bahkan, John I Goodlad dalam bukunya, Behind the Classroom Door, meyakinkan pembacanya bahwa sekali guru memasuki ruang kelas dan menutup pintu kelasnya, hanya dialah yang bisa menentukan mau ke mana proses pembelajaran akan dibawa. Itulah sebabnya, untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013, pelatihan guru mutlak harus dilakukan dengan baik dan profesional.
 Oleh karena itu, tak heran bila pemerintah dengan sangat hati-hati telah mempersiapkan desain pelatihan bagi ratusan ribu guru di negeri ini agar bisa melaksanakan Kurikulum 2013 secara profesional. Meski demikian, tetap ada pertanyaan dari sejumlah pihak, apakah pemerintah bisa melaksanakan pelatihan guru yang begitu masif dalam waktu yang relatif singkat.
 Jawabnya harus bisa. Mengapa demikian? Karena kalau sampai para guru kita tidak disiapkan secara profesional, sehingga terjadi perubahan pola pikir pada mereka, maka ketika pintu-pintu kelas ditutup dan dikunci rapat- rapat oleh mereka, implementasi Kurikulum 2013 akan menghadapi kegagalan di dalam kelas oleh perilaku guru yang tidak profesional.

Peran Strategis
 Kontribusi signifikan guru terhadap proses pendidikan telah diteliti di Amerika Serikat dengan menggunakan paling tidak 2,5 juta siswa. Sangat menakjubkan hasilnya. Karena itu, sekali lagi, aspek profesionalisme para guru tetap akan menjadi taruhan penting bagi suksesnya implementasi sebuah kurikulum.
 Penelitian Chetty, Friedman, dan Rockoff (2011): The Long-Term Impacts of Teachers: Teacher Value-added and Student Outcomes in Adulthood, dengan jelas menyimpulkan beberapa hal. Jika para siswa diajar oleh para guru yang mampu menyampaikan bahan ajar (kurikulum) dengan baik, para siswa itu setelah tamat sekolah memiliki peluang yang sangat besar untuk bisa: (1) sukses masuk ke perguruan tinggi; (2) memasuki perguruan tinggi kelas papan atas; (3) mendapatkan gaji yang lebih tinggi setelah bekerja; (4) hidup di lingkungan sosial ekonomi yang lebih tinggi; dan (5) menabung lebih banyak untuk masa pensiun.
 Sukses siswa ini kalau dibawa ke alam pikir Kurikulum 2013 harus dinyatakan bahwa kompetensi lulusan sekolah kita harus sukses dalam mencapai kompetensi inti dan kompetensi dasar. Mengapa begitu? Karena hasil penelitian tersebut jelas merupakan dampak ajar yang mencakup aspek sikap, nilai, keterampilan, dan pengetahuan. Oleh sebab itu, Kurikulum 2013 akan memiliki positive nurturing effects—dampak bimbingan yang positif—sebagaimana hasil penelitian Chetty, Friedman, dan Rockoff tersebut, manakala ia mendapat dukungan profesional guru secara memadai.
 Memang benar sebagian guru kita selama tiga tahun ini telah mendapatkan tunjangan profesi sebagai akibat adanya sertifikasi. Dengan demikian, kesejahteraan mereka semakin bagus. Kalau kesejahteraan guru semakin bagus, adakah jaminan bagi mereka dan serta-merta bisa melaksanakan Kurikulum 2013 dengan baik dan profesional? Dengan begitu akan mendatangkan nilai tambah secara signifikan bagi kehidupan para siswa kita di masa tuanya, seperti yang digambarkan dalam penelitian di atas? Jawabnya: belum tentu.

Berbasis Kinerja
 Banyak penelitian memiliki kesimpulan bahwa kenaikan gaji guru tidak serta-merta mampu membawa perbaikan kualitas praksis pembelajaran di sekolah. Salah satu penelitian akan hal itu dilakukan Dalton dan Gutierrez (2011), yang kemudian dilaporkan dalam jurnal Economy Policy. Padahal, banyak penelitian lain juga mengatakan, variabel masukan terpenting dalam sebuah pendidikan yang berkualitas adalah profesionalisme guru yang memiliki portofolio dan ”repertoar” kualitas pembelajaran.
 Kenaikan gaji dan tunjangan guru baru akan berkorelasi positif dengan profesionalismenya jika sistem gaji dan tunjangannya dibayarkan berbasis kinerja. Paling tidak hal ini telah diteliti oleh David N Figlio dan Lawrence Kenny (2010): Individual Teacher Incentives and Student Performance, dan juga dalam Crosscountry Evidence on Teacher Performance Pay.
 Dari studi dan sejumlah analisis tersebut, memperkuat ekspektasi dan persyaratan penting bahwa guru memang harus disiapkan secara profesional dalam melaksanakan Kurikulum 2013. Meskipun triliunan rupiah tunjangan telah dibayarkan kepada mereka, tunjangan guru tidak secara otomatis membawa mereka siap melaksanakan Kurikulum 2013 tanpa ada pelatihan dan pendampingan secara tersistem dan berkelanjutan. Inilah pekerjaan rumah yang akan segera dilakukan oleh pemerintah.

Suyanto ; 
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta
KOMPAS, 01 April 2013

Selengkapnya.. »»  

Kurikulum Pendidikan Haruslah Memberi Tantangan bagi Siswa


Para ilmuwan tanpa mengenal lelah telah meneliti berbagai faktor penting yang berkontribusi pada kesuksesan hidup. Mereka tertarik mencari faktor penentu yang secara signifikan bisa digunakan untuk memprediksi sukses kehidupan.
Dari penelitian itu ditemukanlah faktor-faktor penting yang ikut menyumbang kesuksesan seseorang. Faktor-faktor penentu sukses itu akhirnya diterjemahkan oleh para ahli pendidikan ke dalam kurikulum dan program pembelajaran.
Pendek kata, dengan ditemukannya faktor penentu sukses itu, dunia pendidikan juga ikut berlomba-lomba dan berkontemplasi untuk merumuskan filosofi, paradigma, strategi, dan metodologi pembelajaran. Pada gilirannya, rumusan itu digunakan untuk mengonstruksi kurikulum yang mampu memberi bekal ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik untuk mendaki kesuksesan hidup.
Faktor signifikan yang telah mendapat perhatian luas untuk memprediksi sukses seseorang, antara lain intelligence quotient (IQ, kecerdasan otak) dan emotional quotient (EQ, kecerdasan emosional). Kecerdasan yang disebut terakhir, oleh penemunya, Daniel Goleman (1995), diberi nama emotional intelligence, bukan emotional quotient.
Kelahiran EQ membuat arah baru pendidikan secara luas. Sebab, dalam banyak penelitian terbukti IQ tak lagi menjadi satu-satunya prediktor sukses peserta didik di masa datang.
Sebelum muncul EQ, IQ-lah yang didewa-dewakan dunia pendidikan untuk mempermudah pekerjaan pembelajaran dalam memberi bekal atau virus sukses peserta didik atau bahkan mahasiswa sekalipun. Implikasinya, pengembangan kurikulum hampir di seluruh dunia pada era jayanya IQ selalu berorientasi pada upaya bagaimana mengemas program pembelajaran yang bisa memberikan kecerdasan otak secara maksimal kepada para peserta didik.
Setelah EQ ditemukan oleh Goleman, kurikulum serta-merta harus dan mutlak memperhatikan faktor-faktor non-kognitif, seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, pengendalian emosi, dan memahami emosi orang lain. Bahkan, Goleman mengklaim IQ hanya berkontribusi 20 persen terhadap kesuksesan peserta didik setelah mereka hidup dalam masyarakat nantinya. Ternyata 80 persen justru ditentukan oleh faktor lain di luar IQ, di mana EQ masuk di dalamnya secara signifikan.
Oleh karena itu, jika suatu bangsa ingin membuat kurikulum yang bisa mengantarkan para peserta didik jadi orang sukses, kurikulum itu juga harus memberikan menu belajar yang mencakup aspek lain selain kecerdasan, seperti sikap, perilaku, kepribadian, keberagamaan, budi pekerti, dan kecerdasan otot (muscle memory).
Bahkan, praksis pendidikan di Jepang memasukkan aspek memori dan kecerdasan otot dalam kurikulumnya sejak kelas I dan II SD melalui aktivitas otot (keterampilan) dalam bentuk kegiatan origami secara intensif. Origami mampu menanamkan kepada para siswa sifat dan sikap kreatif, inovatif, sekaligus membangun kecerdasan/ingatan otot para siswa.

 ”Adversity Quotient”
Sudah lengkapkah prediktor kesuksesan yang bisa dikemas dalam kurikulum setelah adanya penemuan IQ, EQ—juga spiritual intelligent (SQ, kecerdasan spritual), dan kecerdasan otot? Ternyata belum! Dunia ilmu pengetahuan tetap melakukan penelitian untuk membuat prediktor kesuksesan memiliki daya prediksi yang makin robust, semakin kecil kesalahannya sampai mencapai derajat kepercayaan 99 persen. Atau tingkat koefisien alpha 0,01 jika kita meminjam terminologi uji signifikansi statistik inferensial. Prediktor baru itu adalah adversity quotient (AQ).
Dua tahun setelah Daniel Goleman menemukan EQ, muncullah AQ yang ditemukan oleh Paul Stoltz (1997). Aplikasi AQ dalam proses pendidikan memang belum seluas aplikasi EQ dan SQ. Saat ini, AQ banyak diaplikasikan dalam perusahaan besar untuk kepentingan rekrutmen dan pelatihan pegawainya.
Dunia pendidikan juga harus memanfaatkan temuan Paul Stoltz ini. Mengapa demikian? Karena AQ pada hakikatnya merupakan kapasitas seseorang untuk menghadapi berbagai bentuk tekanan dan ketidaknyamanan hidup dalam situasi tertentu.
Orang yang AQ-nya tinggi akan tahan banting, dalam arti fisik, mental, dan kejernihan berpikir. Lebih penting lagi, ia segera bisa kembali ke keadaan normal setelah berhadapan dengan berbagai tekanan dan tantangan. Sebaliknya, orang yang AQ rendah akan selalu menyalahkan lingkungan ketika dia gagal sehingga dia tidak dapat mengambil keputusan untuk menuju sukses. Bidang keilmuan AQ ditopang tiga pilar utama: psychoneuroimmunology;, neuropsychology, dan cognitive psychology.
Orang hidup tak ada yang bebas dari tekanan dan tantangan. Dokter punya tekanan saat di meja operasi, wartawan memiliki tekanan dan tantangan ketika harus menghadapi tenggat berita, menteri dan presiden selalu menghadapi tekanan dari ekspektasi masyarakat. Siswa pun selalu menghadapi tekanan dan tantangan ketika harus belajar materi baru yang jauh lebih sulit, datang dan pulang tepat waktu, dan menyerahkan tugas individu serta kelompok. Kalau semua tekanan itu berhasil dilewati, sukseslah mereka. Kalau gagal, akan reduplah suasana hati dan pikiran saat itu.

Hidup adalah Tantangan
Oleh sebab itu, kapasitas untuk bisa menghadapi berbagai tekanan harus diajarkan dan dilatih sejak mereka duduk di bangku sekolah. Siswa perlu mengalami sendiri berbagai prosedur serta proses ilmu dan pengetahuan. Kerena itu, kegiatan mengamati, bertanya, menalar, bereksperimentasi, juga pengalaman membangun jejaring perlu diakomodasikan dalam sebuah kurikulum.
Dengan cara seperti itu, siswa akan bisa merespons berbagai kemungkinan dan tekanan hidupnya kelak setelah hidup dalam masyarakat. Respons positif terhadap tekanan yang dihadapi siswa akan memberi jalan kepada kesuksesan hidup kelak.
Belajar tidak cukup hanya yang bersifat menyenangkan, tetapi juga harus menantang bagi siswa kita. Mengapa begitu? Karena hidup identik dengan tantangan.
Kurikulum dan proses pembelajaran perlu memberi tempat yang cukup agar siswa bisa melakukan observasi, analisis, hipotesis, sintesis, dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi dalam proses belajarnya. Sebab, pada saatnya nanti, meminjam konsepnya Jerome Brunne, para siswa akan melakukan apa yang disebutnya transfer of learning and principles dalam kehidupan nyata.
Jadi, belajar tidak cukup dengan pendekatan yang menyenangkan semata. Selebihnya, harus menantang agar siswa bisa berlatih untuk membangun AQ-nya. Semoga begitu.

Suyanto ;  
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta
KOMPAS, 15 Februari 2013

Selengkapnya.. »»  

Negara Adikuasa Pendidikan


Negara di dunia tak henti-hentinya membangun sistem pendidikan. Mengapa demikian? Karena di era yang berbasis pengetahuan ekonomi seperti saat ini, pendidikan yang berkualitas akan mampu menempatkan negara danbangsa bersangkutan berjaya dalam banyak hal.

Sebutlah dalam bidang ekonomi, kesehatan, kemakmuran, daya saing, dan teknologi. Oleh sebab itu, hampir semua negara di dunia saat ini selalu melakukan pembaruan, atau paling tidak merancang perubahan dalam bidang pendidikan, betapa pun kecilnya.

Apa hasil pembangunan pendidikan bagi negara-negara di dunia saat ini? Pearson, pada November 2012, meluncurkan data mengenai peringkat kualitas pendidikan di 50 negara. Data itu merupakan hasil penelitian pendidikan global terbaru yang dilakukan secara independen oleh Economist Intelligence Unit, Pearson. Hasil penelitian global itu kemudian disajikan dalam The Learning Curve Report oleh Pearson.

Sarana Identifikasi
Laporan penelitian yang sangat monumental itu sejak awal dirancang untuk membantu para pembuat kebijakan pendidikan, tokoh pendidikan, dan akademisi jika mereka ingin mengidentifikasi faktor penting apa saja yang bisa mendorong dan meningkatkan kualitas hasil pendidikan. The Learning Curve Report juga menyajikan indeks global baru tentang keterampilan kognitif dan pencapaian (prestasi) pendidikan suatu negara dengan mendasarkan diri pada data nilai hasil tiga jenis penilaian hasil belajar siswa secara internasional.

Pertama, The Programme for International Student Assessment, sebuah studi berskala internasional yang dilakukan Organization of Economic Co-operation and Development di negara anggota ataupun non-anggota dalam bidang performa skolastik. Penilaian difokuskan pada penguasaan bidang matematika, sains, dan membaca bagi siswa usia 15 tahun.

Kedua, The Trends in International Mathematics and Science Study, sebuah penilaian internasional dalam mata pelajaran Matematika dan Sains bagi siswa kelas IV dan VIII di seluruh dunia. Penilaian jenis ini dikembangkan International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) yang bertujuan untuk memungkinkan negara peserta membandingkan prestasi belajar siswa antarnegara dalam mata pelajaran Matematika dan Sains.

Ketiga, The Progress in International Reading Literacy Study, sebuah studi internasional tentang prestasi belajar siswa kelas IV dalam mata pelajaran membaca. Studi ini juga dilakukan IEA.

Bagaimana peringkat indeks kualitas pendidikan yang dihasilkan The Learning Curve Report? Sangat menakjubkan. Betapa tidak! Negara-negara yang pernah hebat seperti Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Selandia Baru, Inggris, dan Australia kini sudah tidak lagi menduduki lima terbaik pendidikan dunia. Sebaliknya, Finlandia dan Korea Selatan menduduki peringkat pertama dan kedua dalam indeks kualitas pendidikan dunia. Termasuk negara peringkat lima terbaik berikutnya setelah Finlandia dan Korea adalah Hongkong, Jepang, dan Singapura.

Kalau mau melihat peringkat sepuluh terbaik dunia, tinggal menambah lima negara berikutnya, yakni Inggris, Belanda, Selandia Baru, Swiss, dan Kanada. Amerika Serikat berada pada peringkat ke-17 setelah Jerman dan Belgia. Peringkat lima terendah diduduki Kolombia, Thailand, Meksiko, Brasil, dan Indonesia.

The Learning Curve Report menyebut Finlandia dan Korea Selatan sebagai negara ”education superpowers” dengan Z- score masing-masing 1,26 dan 1,23 (nilai itu lebih tinggi di atas rata-rata dan lebih dari satu standar deviasi diatas mean). Alhasil, tiga negara yang sudah lama bertengger di papan atas, yaitu Hongkong, Jepang, dan Singapura, dapat tergeser ke peringkat persis di bawah mereka.

Lebih menarik lagi, dua negara ”adikuasa” di bidang pendidikan itu menggunakan sistem manajemen pendidikan yang sangat berbeda, baik dilihat dari sisi proses belajar-mengajarnya maupun persekolahannya.

Di Korea Selatan, sistem pendidikan lebih memiliki karakteristik serba terstruktur. Siswa secara ketat harus terlibat dalam proses belajar yang padat, dan proses belajar di sekolah lebih banyak berorientasi pada tes.

Sementara di Finlandia, proses belajar lebih rileks, menyenangkan, fleksibel, lebih banyak pilihan bagi siswa sesuai minat dan kecepatan belajarnya. Meski demikian, menurut The Learning Curve Report, kedua negara itu memiliki performa pendidikan yang secara statistik sama baik.

Lalu, kita patut bertanya, sebenarnya faktor apa di luar perbedaan sistem yang mereka anut yang menyebabkan baik Finlandia maupun Korea Selatan mampu menjadi negara adikuasa di bidang pendidikan? Laporan Studi Global The Learning Curve menemukan faktor universal yang sangat berpengaruh pada tingginya kualitas pendidikan di dua negara tersebut. Pertama, dimilikinya sistem pendidikan dan pengembangan profesi guru yang berkualitas tinggi. Kedua, dimilikinya akuntabilitas yang tinggi pada sistem nilai (values system) dan ditegakkannya misi moral yang kuat yang melandasi semua upaya pengembangan pendidikan.

Dengan demikian, dapat dipastikan tidak ada politisasi dunia pendidikan di kedua negara itu. Temuan itu juga dapat dijadikan pelajaran, jika kita akan membangun pendidikan dengan hasil yang lebih baik, tidak usah tergopoh-gopoh meniru sistem manajemen pendidikan negara lain tanpa mengkaji kecocokan dan relevansinya dengan sistem nilai dan budaya yang kita miliki.

Budaya dan Kultur
Bagi kepentingan para pengambil kebijakan, praktisi, dan juga akademisi, bank data yang ada di The Learning Curve Report merupakan informasi yang sangat berharga manakala ingin mencari tahu hubungan antara masukan (input) dan hasil pendidikan dalam konteks sosial ekonomi yang lebih luas. Mengapa demikian? Karena bank data itu memasukkan variabel penentu penting dalam pembangunan kualitas pendidikan.

Pertama, pengeluaran pemerintah dalam sektor pendidikan, usia anak masuk sekolah, serta gaji dan tingkat pendidikan guru sebagai input proses pendidikan. Kedua, tingkat literasi dan tingkat kelulusan dari sekolah dan perguruan tinggi sebagai hasil pendidikan. Ketiga, tingkat pengangguran nasional, pendapatan domestik bruto, dan usia harapan hidup sebagai hasil pendidikan dalam konteks sosial ekonomi.

Akhirnya, temuan penting lain yang perlu direnungkan dari The Learning Curve Report adalah betapa menentukannya budaya dan kultur yang mengelilingi dan melingkupi dunia pendidikan, di samping investasi uang yang memadai, bagi setiap upaya untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan agar menjadi jauh lebih baik.

Suyanto ;  
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta;
Plt Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud
KOMPAS,  10 Januari 2013

Selengkapnya.. »»  

Evaluasi Guru Bersertifikasi


Guru yang saat ini sudah memegang sertifikat pendidik akan segera dievaluasi. Demikian rencana pemerintah dalam kerangka meningkatkan kualitas layanan pendidikan secara terus menerus. Pendidikan dalam prosesnya akan menghasilkan outcome yang final. Artinya, sekali satuan pendidikan memberikan tanda tamat belajar kepada siswa ya itulah hasil akhir dari proses yang ditawarkan sekolah dan dibeli oleh siswa. Jadi, kalau terjadi kesalahan dalam proses pendidikan yang diakibatkan oleh tidak dimilikinya kompetensi oleh guru, maka tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki outcome dari sebuah proses pendidikan oleh satuan pendidikan itu sendiri.

Kalau saja guru mengajarkan konsep, pengetahuan, ilmu, maupun sistem nilai yang salah kepada siswa, maka setelah seorang siswa lulus dari sekolahnya semua bentuk kesalahan itu akan dibawa serta oleh para lulusan kemana saja dia hidup dan mengabdi. Oleh karena itu guru harus benar-benar profesional, menguasai kompetensi profesi, akademik, sosial, maupun kompetensi pribadi.

Sungguh sangat beda dalam industri barang yang besifat massif juga, seperti dalam industri otomotif. Jika ada produk mobil yang ternyata salah, maka produsennya dengan mudah pasang pengumuman agar semua pembeli merk mobil yang dibuat pada tahun tertentu datang lagi ke semua agen penjualannya untuk dibetulkan kesalahannya. Lalu bagaimana dalam dunia pendidikan formal persekolahan? Sangat tidak mungkin dan sangat tidak bisa untuk memanggil kembali semua lulusannya untuk dilakukan perbaikan konsep, pengetahuan, keilmuan, maupun tata nilai yang sudah terlanjur mereka terima secara salah dari guru-guru mereka. Itulah sebabnya guru memang sedapat mungkin tidak mengajarkan sedikitpun sesuatu hal yang salah pada siswanya. Oleh karena itu para guru kita yang saat ini telah memagang sertifikat pendidik yang jumlahnya telah mencapai 1.020.000 di jenjang pendidikan dasar dan menengah, perlu meningkatkan dirinya sebagai guru profesional dari hari ke hari tanpa henti. Mengapa begitu? Karena ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini melaju amat sangat cepat.

Tiga puluh tahun lalu suatu ilmu pengetahuan berkembang memerlukan waktu puluhan tahun. Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang berlipat hanya memerlukan waktu dalam kurun bulan saja. Kalau saja guru guru kita yang telah memegang sertifikat profesi tidak dilihat secara periodik kompetensinya, sulit diketahui dan dicegah apakah guru kita memang telah menjalankan proses pembelajaran secara profesional di kelasnya masing-masing, sehingga tidak memberi bekal yang keliru baik secara pedagagis maupun akademik kepada para siswanya setelah lulus nanti.

Mengapa harus dievaluasi? Apakah tidak pantas dipercaya mereka para guru yang telah mendapatkan sertifikat pendidik? Persoalannya bukan percaya tidak percaya, tetapi permasalahnnya lebih terletak pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu mengikuti prinsip deret ukur, sedang peningkatan kompetensi para guru bisa dipastikan hanya bisa berjalan sesuai prinsip deret hitung. Di samping itu, saat ini pembangunan pendidikan kita memusatkan pada kebijakan peningkatan mutu layanan.

Jika saja para guru yang telah disertifikasi itu tidak berdampak pada mutu layanan, apa kata dunia pada sektor pendidikan kita? Di negara maju semua profesional juga selalu dievaluasi secara periodik. Seorang mekanik saja, di Amerika Serikat, harus lulus uji sertifikasi setiap lima tahun sekali. Kalau tidak lulus, maka ijin bengkelnya dicabut. Begitu juga seorang dokter, setiap lima tahun sekali harus menjalani uji kompetensi. Kalau tidak lulus mereka di-grounded, tidak bisa prektek kedakteran lagi. Bagaimana semangat eavaluasi para guru bersertifikat pendidik? Tentu tidak ada niatan untuk memutuskan kegiatan mengajar mereka di dunia pendidikan, terlebih lebih memutuskan tunjangan profesinya. Tujuan utamanya ialah agar para guru profesional kita sadar bahwa continues professional development tetap dilakukan secara terus menerus.

Ada gejala bagi guru yang telah bersertifikasi tidak mau lagi meningkatkan kompetensi profesi mereka. Jika diminta untuk mengikuti seminar akademik saja mereka ogah-ogahan lantaran telah memiliki sertifikat pendidik. Di samping itu, pemerintah memang sudah luar biasa memberikan berbagai tunjangan kepada para guru kita. Paling tidak tahun ini di jenjang pendidikan dasar saja talah mencapai 30 trilyun rupiah untuk membayar berbagai tunjangan guru. Oleh karena itu wajar kalau kompetensi mereka dipetakan melalui sebuah evaluasi kompetensi. Semoga begitu.

Oleh Prof. Suyanto, Ph.D
Plt. Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud
Posted Thu, 08/09/2012 - 13:22 by sidiknas
Selengkapnya.. »»