Tampilkan postingan dengan label Rhenald Kasali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rhenald Kasali. Tampilkan semua postingan

Rektor-rektor Administratif

Pernah ada dalam pikiran saya bahwa universitas adalah barometer pembaruan, mahasiswanya agen perubahan, dan kampusnya dipimpin rektor inspiratif.
Prof Mahar Mardjono (UI), dokter ahli saraf, berani mengusir tentara dari kampus dan menolong mahasiswa yang dihajar aparat saat menuntut perubahan. Rektor pertama UGM, Prof Dr M Sardjito, dikenal sebagai peracik obat dan vitamin untuk tentara pejuang. Di Bogor, Rektor IPB Prof Andi Hakim Nasution memperkenalkan sistem panduan bakat penerimaan mahasiswa baru yang berkembang menjadi penelusuran minat dan kemampuan (PMDK). Ia mewarnai kaum muda menggeluti sains.
Kita juga banyak mengenal bagaimana Prof Dr Mochtar Kusu- maatmadja (Unpad), Prof Herman Johannes dan Prof Dr Teuku Jacob (UGM), serta Prof Dod- dy T Amijaya (ITB) menginspirasi kaum muda. Mereka terkenal karena inspiratif dan membuat mahasiswa terlibat dalam gerakan atau gagasannya.
Universitas negeri berkesempatan pertama menyeleksi calon mahasiswa dan menjadi tujuan utama kaum cerdik pandai. Kampus yang sehat bukan hanya belajar dari buku, dosen, dan laboratorium, melainkan juga cara rektornya memimpin dan memberi contoh. Negeri yang sehat tak hanya melahirkan orang pandai, tetapi juga panggilan pengabdian, kepedulian sosial, dan daya kreasi-inovasi. Wajar jika masyarakat berharap kampus-kampus itu dipimpin orang yang mampu menjadi role model, mempunyai reputasi yang kuat, berwawasan, dan visioner.
Bagaimana sekarang? Belakangan ini kita justru mendengar keluhan wisudawan dan mahasiswa baru yang mengantuk mendengar pidato tak menarik. Mereka mengatakan ”Baik rektor, dekan, maupun karya-karyanya sama-sama tak dikenal. Mereka hanya bicara jumlah lulusan.”
Lalu iseng-iseng saya buat survei kecil dengan kata kunci ”rektor”. Tak banyak yang menyebut nama rektor pemangku jabatan di kampus masing-masing. Siapa pun pemangku jabatannya, hampir semua mengaku rektornya bernama Prof Komaruddin Hidayat atau Prof Anies Baswedan. Keduanya bukan dari kampus universitas yang mengklaim diri sebagai ”barometer”, melainkan role model kaum muda.
Pada era interaktif yang kaya akses ini, tokoh-tokoh bisa diakses kaum muda dari Aceh hingga Papua. Kultwit-nya diikuti banyak orang: Anies dengan 270.000 pengikut, Komaruddin 230.000. Namun, penelusuran saya, pemangku jabatan rektor yang aktif memakai Twitter ternyata hanya dengan 600-700 pengikut.
Apakah ini bukan gejala kampus telah dipimpin rektor-rektor administratif yang, maaf, miskin daya ungkit pengaruh? Pemimpin seperti ini disebut John Maxwell (2006) sebagai penjaga kursi yang berada dalam tangga kepemimpinan terbawah. Maxwell mengatakan, ”They don’t care how much you know until they know how much you care.”
Sebaliknya, jejak-jejak langkah para rektor inspiratif tidak hanya ilmiah, tetapi berdampak riil terhadap perubahan. Mereka turun tangan terlibat dalam masalah aktual sehingga gerakannya punya pengaruh yang kuat. Karena kata-kata dan gerakannya inspiratif, mereka menjadi terkenal, bukan sebaliknya.
Administrator perkebunan
Satu-satunya kata administrator yang masih dipakai pada era ini mungkin hanya di perkebunan milik negara. Kalau bertemu mereka, Anda akan menyaksikan sosok pekerja keras yang biasa bekerja rutin. Tak diperlukan kreativitas karena semua prosedur dan agendanya sudah jelas, aset yang ditangani terletak pada area geografis yang terbatas, dan koordinasi intensif ke dalam.
Karena terlalu intens ke dalam, ia tak dikenal di luar; dan karena rutin, ia tak inspiratif. Ia hanya dihormati pegawainya, tetapi tak merasa perlu menggeluti perubahan di luar. Sebaliknya kampus yang sehat justru bergulat dengan dinamika yang cepat berubah. Ilmu pengetahuan bertambah setiap 20 menit, generasi baru datang dengan teknologi dan masalah yang berbeda-beda, persoalan bangsa kian kompleks, membuat kampus yang hidup harus terus beradaptasi dan menggali kekuatan baru. Keunggulan kampus besar berubah menjadi temporer.
Di tengah dinamika itu, kita justru sulit menemukan rektor-rektor inspiratif. Semuanya hanya sibuk mengurus mahasiswa baru, administrasi keuangan, kepegawaian, pemilihan dekan, pengukuhan guru besar, dan turnamen olahraga antar-jurusan. Pokok pekerjaannya adalah administratif, rutin, dan membuat laporan.
Dengan metode kerja seperti itu, jelas universitas sulit menghasilkan pembaruan, apalagi mencetak agen perubahan. Di dalam tempurungnya yang gelap, banyak ditemui perselisihan paham seputar perebutan peran administratif dan alokasi anggaran, politik kampus, dan kecemburuan. Belum lagi soal-soal primordial, mulai dari ”penduduk asli” (alumni sendiri) versus lulusan luar, etnisitas, latar agama, dan aliran-aliran sempit. Dalam horizonnya yang terbatas, hanya terjadi perkawinan pemikiran satu keturunan yang menghasilkan produk pengetahuan yang lemah. Apa yang dipublikasikan tak dijalankan, dan sebaliknya.
Namun, satu-dua orang memilih keluar dan membangun karier dari jendela-jendela kecil yang mereka buka sendiri agar mendapat oksigen segar. Dari sosok mereka inilah sebenarnya perubahan bisa diharapkan. Namun, kelompok kecil yang bekerja ini tak diberi tempat layak di dalam karena kampus lebih banyak didominasi manusia tipe administrator. Bagi mereka, sosok yang tepat adalah penjaga rutinitas yang intensif bermain di dalam.
Saya mengerti, mereduksi peran rektor sebagai administrator atau menyamakan kampus dengan kebun bukan analogi yang enak dibaca. Namun, kita tak bisa menutup kesan itu hanya dengan menampiknya. Perubahan tak bisa dilakukan dengan bantah-membantah, mengagungkan kepentingan territory, atau debat kusir. Perubahan itu harus dimulai dengan mata dan telinga yang sehat dan pikiran yang bersih. Melihat yang terjadi di luar, memenuhi aspirasi-aspirasi yang tumbuh dari masyarakat, dan melahirkan role model.
Indonesia butuh pemimpin-pemimpin yang dicari dengan penuh kesungguhan, bukan pencari kerja yang memimpikan jabatan melalui kongsi kekuatan dan office politics. Kalau ini tak bisa, lupakan saja konvensi di partai-partai besar untuk menghasilkan kepala negara terbaik sebab masalahnya berawal dari kampus yang gagal menelurkan agen perubahan karena pemimpinnya bukan role model.

Rhenald Kasali  ;    
Guru Besar FEUI; Pendiri Rumah Perubahan
KOMPAS, 27 Agustus 2013




Selengkapnya.. »»  

School of Climate Change

Di dunia ini ada beragam pandangan tentang perubahan iklim. Seperti biasa, setiap aliran selalu ada antinya. Jadi ada yang percaya (bahwa iklim itu terus berubah) dan ada pula yang meragukannya. 
Negara-negara kepulauan yang nyaris tenggelam akibat es mencair di Kutub Utara, mau tak mau mempercayainya. Vanuatu dan Maladewa misalnya praktis hidup dalam ancaman. Demikian pula negara-negara Skandinavia yang dekat dengan Kutub Utara. Mantan Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar bercerita, bagaimana ia dibuat percaya oleh negaranegara Skandinavia yang berhubungan langsung dengan perubahan tersebut, “Saya diajak Menteri Lingkungan Hidup Swedia, menumpang pesawat, lalu naik helikopter, dan dari situ kami naik kereta es yang ditarik puluhan ekor anjing melewati jalan es. Setiba di suatu tempat kami menyaksikan sendiri bagaimana gumpalangumpalan raksasa es mencair. “Ia percaya, orang-orang yang tidak sempat melihat hal itu, umumnya sulit mempercayaiadanya perubahaniklim.” 

Satu Bumi Dua Populasi 
Hari Senin yang lalu saya diundang Prof Emil Salim bertemu di Kantor Wantimpres. Ia bertanya, “Why climate change school?” Wibawa Prof Emil yang kritis, namun selalu friendly membuat saya harus berpikir ekstrakeras. Rupanya, selain climate change, yang ia pikirkanadalahmasalah sustainable development. Ia percaya, segala sesuatu yang “berlebihan” (excessive) telah terjadi di atas muka bumi ini. 
Konsumsi berlebihan yang dilakukan penduduk membuat bumi ini rusak berat. Bumi yang seharusnya hanya mampu menampung 4,5 miliar penduduk sekarang telah dihuni lebih dari 7,5 miliar. Ini berarti satu bumi dihuni oleh penduduk yang seharusnya menghuni dua bumi. Lalu setelah itu begitu cepat menjadi 12 miliar dan 15 miliar jiwa. 
Manusia yang berlebih juga mengambil lebih banyak, lalu membuang segala limbahnya ke dalam sungai-sungai yang semasa kita kecil dialiri air yang bening. Dari air bening beralih kecokelat- cokelatan dan kehitamhitaman. Segala yang dulu di sungai memberi kita kehidupan pun mati perlahan-lahan. Kerang-kerang sungai yang betapa nikmatnya itu kini pun lenyap. 
Kita telah berkegiatan ekonomi dengan membebankan “cost”-nya kepada bumi yang membuat bumi menjadi lebih panas dan terjadilah bencana-bencana yang tak kita inginkan. Belum lama ini beredar tomcat, hama tikus yang menyerang petani secara besar-besaran, dan ulat bulu dalam jumlah yang mengerikan. Kita telah menggunakan pestisida secara berlebihan sehingga membunuh segalanya yang menjaga alam, termasuk predator-predator pemangsa predator. 
Alam menjadi tidak stabil. Maka itu, Prof Emil melihat pentingnya “sustainable development” yang menyangkut tiga area: economic development, social development, dan ecological development. Selama ini kita memang lebih banyak bicara tentang ecological development ketimbang kedua elemen lainnya. Kita lebih banyak melakukan pengerukan kekayaan bumi ketimbang memperkayanya. 
Padahal kita hidup di garis khatulistiwa dengan kelembaban yang tinggi, di atas gugusan pulau-pulau dengan jangkauan terluas dengan gunung merapi terbanyak di dunia. Biodiversity yang begitu kaya dengan alternatif kehidupan yang luar biasa. Alam ini kita eksploitasi, bukan kita perkaya. Ketika bangsabangsa di Barat mengeluarkan biaya riset jutaan dolar untuk menemukan obat-obatan kimia, alam kita justru menyediakan secara cuma-cuma. 
Tak jauh dari lokasi Rumah Perubahan yang berada di tengah-tengah perkampungan saya sering melihat seorang pemuda yang membuka usaha pengobatan dengan menggunakan lintah (pacet). Kuli-kuli bangunan dan orang kampung percaya bahwa lintah bisa mengurangi pegal-pegal dan sakit-sakit tertentu. Namun, belakangan pemuda itu menghentikan usahanya hanya karena kesulitan mendapatkan lintah. 
Minggu ini saya mendapat kabar dari Prof Emil bahwa bisa yang dikeluarkan lintah-lintah jenis tertentu ternyata mampu menyembuhkan penyakit vertigo. Bisa itu dapat mengencerkan darah yang mengental. Itu kajian dari sebuah laboratorium besar. Saya bahkan dengar di pedalaman Kalimantan dan Sumatera, lintah telah lama digunakan untuk pengobatan tradisional. 

Empat Mazhab 
Belakangan ini Rumah Perubahan tengah menjalankan sebuah misi yaitu bagaimana menanamkan kepada kaum muda tentang perlunya merawat bumi. Kegiatan yang kami lakukan masih belum besar, tetapi mengarah menjadi School of Climate Change and Sustainable Development. Sungai-sungai kami bersihkan, airnya ditata, biogas diolah, digabung dengan limbah tempe, dan kami menjaga keseimbangan ekologi. 
Kalau ada kegiatan ekonominya, ini insentif yang bisa menggerakkan masyarakat. Di dunia ini ada empat mazhab mengenai perubahan iklim. Mazhab pertama menyatakan kita tengah memasuki abad es yang mencair, yang kedua menyangkut peningkatan suhu bumi. Yang ketiga, percaya tidak ada perubahan iklim (didasarkan data historis). 
Yang terakhir adalah mazhab agnostic. Secara garis besar sebenarnya dapat dibagi dua saja yaitu mereka yang percaya ada perubahan iklim dan selebihnya tidak. Itu saja. Namun, apa pun mazhabnya, bumi kali ini tengah dilanda sebuah masalah yaitu ledakan penduduk dan eksploitasi yang berlebihan. Kalau Indonesia ingin maju, kita tentu perlu berpikir sebaliknya yaitu memperkaya bumi, bukan menghancurkannya.

Rhenald Kasali 
Ketua Program MM UI
KORAN SINDO, 16 Mei 2013


Selengkapnya.. »»  

Memudarnya Sekolah-Sekolah Tua


 Tak dapat dimungkiri sekolah-sekolah kita menghadapi banyak masalah. Dan, bangsa yang besar sudah pasti perlu meresponsnya. Tapi bagaimana caranya? Mendiknas Moh Nuh dan wakilnya, Musliar Kasim, melihat suasana belajar yang dihadapi anak-anak kita sudah tidak kondusif.

 Beban mata pelajaran sudah berlebihan, anak-anak semakin hari semakin stres. Memperbarui gedung saja tak cukup untuk mengusir hantu-hantu yang membuat anak-anak sering kesurupan menjelang ujian nasional (UN). Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina yang aktif dalam perubahan sosial, membantu secara sukarela dengan program Indonesia Mengajar yang luar biasa.

 Tetapi sebagian besar guru-guru besar memilih berpolemik di koran. Anies bukan tak menghadapi kendala. Puluhan anak Universitas Indonesia (UI) yang ikut mengabdi dalam program Indonesia Mengajar melihat fenomena yang sama: masih banyak sekolah yang metodenya sudah tidak fun.

 Banyak mahasiswa saya yang sudah siap dengan gitar dan suling hanya bisa bermain sendiri dalam kesepian. Mengapa demikian? Jawabannya, karena guru-guru sekolah di daerah terpencil lebih ingin “guru-guru baru” itu membantu agar anak-anak siap menghadapi UN. Jadi, ketimbang mengajak mereka bermain atau menumbuhkan “kecerdasan-kecerdasan relasionalnya”, lebih baik mengajarkan matematika, bahasa Indonesia, fisika, dan bahasa Inggris.

Jadi Apa yang Mau Diubah?

 Yang mau diubah jelas suasananya. Lalu bagaimana caranya? Dibuka-buka ternyata sumbernya ada banyak. Salah satunya jumlah mata pelajaran itu. Apa solusinya? Yang satu bilang: Hapus saja mata pelajaran yang tidak penting-penting. Tetapi begitu hal itu ditawarkan, reaksi pun bermunculan. Seperti membagi warisan, mengubah kurikulum itu tak ada yang mau dikurangi. Tak ada yang mau mata ajarannya dihapus.

 Yang lain membuka Undang-Undang Sisdiknas (UU Nomor 20/2003) dan menemukan constrain lain. Di undang-undang itu disebutkan kurikulum pendidikan nasional harus mencakup apa saja. Jadi kalau ada mata ajaran yang disebut dalam UU “tidak dicantumkan” dalam draf kurikulum, bisa jadi masalah besar. Ia bisa kandas di Mahkamah Konstitusi (MK). Jadilah ramuan gado-gado yang dibiarkan sakral.

 Orang lain mengatakan, “Kalau tidak bisa dikurangi, metodenya saja kita ubah.” Ide ini terkesan brilian, maka mereka menuju arah itu. Dari metode mengajar elementer, yang parsial dibuat terpisah-pisah, digabung menjadi pendekatan integratif. Seorang ilmuwan senior sepengetahuan saya berucap sangat dalam, “Jika perlu, mata pelajaran di SD digabung saja menjadi satu.” Lho kok hanya satu? “Ya,” katanya, “Kita beri saja judul: Manusia dan Alam Sekitarnya.”   Kalau ini jadi kenyataan, anak-anak Indonesia pasti akan senang. Tapi bagaimana guru-gurunya? Bagaimana pebisnis buku? Belum lagi orang-orang yang senang unjuk kehebatan berpolemik. Padahal Moh Nuh dan Musliar Kasim hanya punya waktu yang terbatas: satu tahun lagi kabinet berakhir. It’s now or never. Apa Anda yakin Mendiknas masa depan berani dan mau diolok-olok tidak bernalar seperti yang terjadi sekarang?

Penglihatan Tidak Sama

 Kemarin, saya mengajak guru-guru di yayasan yang saya asuh untuk merundingkan itu. Tetapi bukannya saya didengar, guru-guru yang rata-rata orang kampung yang sederhana itu malah menertawakan saya. Mereka bilang begin,: “Lha, Bapak, itu kan (pendekatan integratif) yang sudah kami lakukan dari dulu.” Apakah buat anak-anak cukup jelas? “Iya Pak, itu justru yang membuat anak-anak kita lebih cerdas, lebih assertive, lebih respek pada alam dan sesamanya. Lebih artikulatif,” lanjut mereka.

 Saya pun tertegun. Pagi ini sebelum menulis saya pun observasi di PAUD-TK Kutilang yang diasuh istri saya. Mata saya bersinar-sinar. Saya tertegun bagaimana anak seorang tukang siomay keliling bisa menjelaskan biji-bijian dengan detail. Seorang anak tukang ojek langganan anak saya bisa membangun gedung tinggi dari balok-balok yang tersedia dengan menjelaskan cara berpikir yang indah. Logika keaksaraan yang menjadi modal bagi ilmu matematika mereka kuasai dengan baik.

 Kata istri saya, anak-anak diajak “recalling”, bernegosiasi dengan kelompoknya, menahan amarah, membaca realita dan mengungkapkan bahasa-bahasa positif. Apakah ini namanya semua? “Ini metode. Isinya sama, tetapi metodenya berbeda.” Apakah diperlukan guru-guru yang S-2 atau S-3? “Tidak Pak, kami juga bisa, ini malah lebih simpel,” ujar guru-guru itu. Istri saya tersenyum. Di belakang mereka, dialah mentor bagi guru-guru itu.

Sekolah-Sekolah Tua Bermasalah

 Hari-hari ini saya hanya mendengar keluhan demi keluhan tentang kurikulum baru. Tetapi harus kita akui, niat baik Mendiknas itu memang belum menghasilkan karya seperti yang diinginkan. Orang-orang yang terlibat dalam diskusi internal bersama kementerian banyak bercerita di sosial media betapa amburadulnya kesimpulan- kesimpulan yang ditarik. Dan, itu sudah cukup bagi sebagian orang untuk menilai layak atau tidaknya sebuah kurikulum.

 Entah apa yang terjadi di sana, sepertinya banyak gagasan-gagasan hebat yang terputus atau sulit diterjemahkan. Berbagai pihak yang menguliti kurikulum itu menceritakan segala masalah dan kejanggalan-kejanggalan. Ya, seperti itulah masalah bangsa kita ini. Kita semua dibentuk dalam sistem pendidikan yang tidak artikulatif, tidak mampu menerjemahkan isi pikiran kita ke dalam tulisan-tulisan yang menyatukan gagasan-gagasan hebat.

 Apa yang tertulis, mencerminkan kemampuan kita berekspresi. Jadinya serba kacau dan lebih mudah dikritik daripada dipasarkan. Kalau Anda pernah membuat kajian untuk mengikuti akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional, pasti Anda juga pernah mengalami hal serupa. Kajian dan laporan yang dibuat anak buah yang berpendidikan tinggi sekalipun ternyata tidak diartikulasikan dengan baik.

 Akibatnya akreditasi buruk. Padahal saat presentasi lisan, bisa dijelaskannya dengan baik. Ini fenomena Indonesia yang merata di mana-mana. Dan tanpa bermaksud membela kurikulum baru, saya justru menemukan jurang itu: tuduhan-tuduhan pada pengkritik yang saya cross kepada Kemendiknas ternyata banyak yang tak sesuai. Sebaliknya, apa yang dipikirkan Mendiknas dan tim perumus ternyata tidak sama dengan yang diterima sejumlah elite.

 Benar saja, apa yang diungkapkan itu pun menjadi umpatan dan kritik tajam di media massa. Semuanya bersuara sama: Tunda saja, atau Batalkan! Suasananya mengingatkan saya saat MMUI mengubah metode belajarnya, dan dosen-dosen yang menentang minta ditunda. Sementara saya merasa kita sudah sangat ketinggalan. Kita jadi terperangkap dalam semangat melawan. Sedikit sekali orang yang bisa diajak kembali pada tujuan awal, yaitu: persekolahan kita harus diperbaiki.

 Belajar harus dibuat lebih menyenangkan. Para pengkritik menuding Mendiknas keras kepala. Mendiknas pun meregangkan: cukup 10% saja dulu SD yang ikut kurikulum baru. Tetapi para pengkritik yang tidak mau, tidak ingin masuk dalam kategori yang 90%. Mereka tetap bilang: harus ditunda! (Tetapi kalau masuk yang 90%, sesungguhnya sudah ditunda, bukan?) Kata ditunda secara implisit bermakna minta “dibatalkan”. Kita terperangkap antara “I” dengan “You”.

 Padahal, mana ada pembaruan yang langsung hebat? Maaf, tidak ada. Tetapi kalau itu dikatakan pada mereka, dengan tangkas akan segera dijawab: pendidikan bukan kelinci percobaan! Padahal jelas sekali ribuan sekolah lama, yang jadi kebanggaan kita dulu, kini tengah menjadi museum: tua, angker, kelihatan berwibawa, namun satu per satu alumnusnya urung mengirim anak-anaknya ke sana. Mereka punya pilihan sekolah-sekolah baru yang metode belajarnya jauh lebih baik.

 Dilema bukan? Yang baru belum bagus, yang lama sudah ditolak. Syukur kalau ini dipahami, tetapi ternyata tidak. Semua hanya disangkal. Persis seperti kisah yang dihadapi para rasul dalam kitab suci. Sekali lagi tidak ada pembaharuan yang instan. Pembaruan itu prosesnya dari penghancuran dahulu, lalu kekacauan, baru pertobatan dan perbaikan-perbaikan.

 Pionir yang berani, ya jalan dulu, mereka bisa dapat keahlian, tapi yang lain bisa belajar dari kekurangannya. Seperti kata pepatah: “In the end everything will be okay”. Lantas, bagaimana kalau saat ini “tidak oke”. Ah, itu artinya “it’s not the end yet”.

Rhenald Kasali  ; 
Ketua Program MM UI
KORAN SINDO, 11 April 2013

Selengkapnya.. »»  

Kurikulum Orangtua untuk Anak


 Seorang ibu menulis di jejaring sosial, ia khawatir masa depan anaknya menghadapi Kurikulum 2013. Apalagi ia baru saja menerima pesan dari senior, ”Jangan harap anak-anak bisa hebat seperti generasi kita.” Lewat tengah malam, karangannya diunggah melalui ponsel pintar. Dalam sekejap komentar berdatangan. Semua datang dari orangtua sibuk yang baru bisa menulis tengah malam.

 Kurikulum 2013 adalah kurikulum sekolah yang belum tentu berhasil (kalau tak ada kerja sama), apalagi pada tahun-tahun awal. Namun, bukankah kita hidup dalam peradaban continuous improvement?

 Ibarat membangun gedung tinggi, tak akan pernah jadi bila galian fondasi berantakan.  Pantas ibu tadi gelisah. Anaknya akan memasuki ”pintu awal kekacauan” dari sebuah perubahan yang belum tentu berhasil pula. Apalagi bila yang mengganggu lebih banyak daripada yang membantu. Di peradaban sosial media, kita sudah saksikan lebih banyak orang iseng ketimbang yang benar-benar memikirkan perubahan. Tambahan lagi, orangtua tak punya waktu mendidik anaknya. Sekolah adalah sebuah ”kawah penggodokan”, tetapi harap maklum ia hanya salah satu dari tiga pilar pendidikan selain orangtua dan lingkungannya.

Tiga Jalur Belajar
 Ibu tadi gelisah karena ia berasumsi masa depan anaknya 100 persen di tangan sekolah. Orangtua susah payah mengumpulkan uang, bekerja hingga larut malam, demi anak. Anak juga dikursuskan di berbagai tempat. Kebanggaan orangtua terletak saat anaknya dapat ranking teratas, nilai-nilainya 10 semua. Namun, si ibu lupa, sekolah hanya mengisi 30 persen dari ruang belajar anak. Dengan demikian, sekalipun mendapat nilai 10 dari sekolah, kalau nilai pendidikan dari orangtua dan lingkungan nol, anak hanya mendapat nilai setara 3,3.

 Berbeda dengan anak tetangga yang nilai sekolahnya biasa-biasa saja, sebut saja 6, tetapi orangtua aktif mengajak jualan di warung. Ia bisa dapat nilai 8 dari orangtua (karena dibina langsung) dan 9 dari gemblengan lingkungan sehingga rata-rata jadi 7,67. Maka, anak yang di sekolah biasa-biasa saja bisa jadi sarjana hebat, ilmuwan gigih atau wirausahawan hebat. Sementara anak sekolah yang diberi predikat genius hanya bisa memajang ijazah, jadi ”penumpang” dalam kehidupan.

 Jadi, Kurikulum 2013 hanya sepertiga dari seluruh kurikulum kehidupan. Bagi saya, penyederhanaan mata ajar bukanlah musibah, melainkan tuntutan untuk memberi ruang anak mengasah kreativitas dan cara berpikir yang lebih simpel agar lebih siap menerima edukasi orangtua dan lingkungan. Masalahnya, sudah siapkah orangtua dan lingkungan mendidik anak-anaknya?

Laporan Guru
 Bangsa besar tak akan membiarkan generasi penerusnya dibesarkan dalam lingkungan kacau. Karena itulah, sejak Confusius, bangsa-bangsa Asia percaya keluarga adalah alat pendidikan yang penting. Oleh karena itu, gelisahlah orangtua-orangtua yang tak mengerti cara membuat kurikulum bagi anak-anaknya, apalagi bila tak punya waktu. Orangtua bisa mendesain kurikulum anak dengan memerhatikan aspek-aspek perkembangan anaknya yang berbeda dengan anak lain. Jadi, kalau mau berubah, Kurikulum 2013 tidak boleh tanggung-tanggung. Harus ada program yang jelas pada orangtua, termasuk mendesain dan eksekusi kurikulum untuk anak di rumah, beserta pembaruan laporan kemajuan belajar (rapor).

 Adalah tak tepat memberi laporan kemajuan belajar semata-mata menulis angka. Orangtua butuh laporan verbal tentang kemajuan anaknya, menyangkut upaya, kemajuan, disiplin, partisipasi terhadap diskusi, pergaulan, minat, kepatuhan, kreativitas, metodologi, hubungan vertikal-horizontal, sikap-sikap sosial, dan sebagainya. Saya menemukan laporan seorang guru pada salah satu mata ajar yang diajarkan di sekolah anak saya (grade 12) di Selandia Baru seperti ini: ”Anak Anda mengalami kemajuan yang pesat meski awalnya terlihat bingung dan frustrasi. Ia terlihat kesulitan mengikuti dan memahami arahan yang diberikan dan harus lebih terbuka terhadap saran-saran yang saya berikan. Namun, ia seorang pembelajar yang antusias dan tahu apa yang ia sukai. Mendalami riset hal-hal kontemporer akan membantu masa depannya untuk menemukan lebih banyak ide dan tema-tema tulisan, juga mempertajam daya kritisnya dalam komposisi. Jika ia ingin terus mendalami topik ini....”

 Saya kira, sebagai orangtua, saya akan paham membuat kurikulum orangtua kalau membaca laporan seperti itu. Lagi pula apa guna mengetahui anak kita berada di nomor berapa di kelas bila kita tak tahu apa yang harus diperbaiki. Saya berharap banyak pada Kementerian Pendidikan untuk terus memperbaiki kelemahan-kelemahan kurikulum yang dirancangnya. Namun, saya juga berharap banyak dari orangtua agar turut mengisi kekurangan pada anak-anaknya, yang kelak akan bertemu kami di tingkat universitas.

Rhenald Kasali  ; 
Guru Besar FEUI
KOMPAS, 05 Maret 2013

Selengkapnya.. »»  

Guru dan Perubahan


Tak dapat disangkal, guru merupakan sosok penting yang mengawal perubahan di awal abad XXI.
Guru berpikir jauh ke depan, bukan terbelenggu ilmu masa lalu, sebab tak banyak orang yang melihat anak-anak telah hidup di sebuah peradaban yang berbeda dengannya. Sementara kurikulum baru yang belum tentu sempurna sudah dihujat, kaum muda mengatakan kurikulum lama sudah tidak relevan mengisi masa depan mereka.
Untuk pertama kali dalam sejarah, dunia kerja dan sekolah diisi empat generasi sekaligus, generasi kertas-pensil, generasi komputer, generasi internet, dan generasi telepon pintar. Terjadi celah antargenerasi, ”tulis dan temui saya” (generasi kertas), ”telepon saja” (generasi komputer), ”kirim via surel” (generasi internet), tetapi generasi terbaru mengatakan, ”Cukup SMS saja”. Yang tua rapat dengan perjalanan dinas, yang muda pakai skype.
Generasi kertas bersekolah dalam sistem linier terpisah-pisah antarsubyek, sedangkan kaum muda belajar integratif, lingkungannya dinamis, bersenang- senang, dan multitasking. Sekolah bahkan tidak lagi memisahkan kelas (teori) dari lab.
Lewat studinya, The Institute for the Future, University of Phoenix (2012), menemukan, kaum muda akan mengalami usia lanjut yang mengubah peta belajar dan karier. Mereka pensiun di usia 70 tahun, harus terbiasa dalam budaya belajar seumur hidup dan merawat otaknya. Generasi yang terakses jaringan TI bisa lebih cepat dari orangtuanya merencanakan masa depan. Pandangan mereka sama sekali bertentangan dengan celoteh kaum tua di media massa atau suara sumbang yang menentang pembaruan. Ketika guru kolot yang baru belajar Facebook mengagung-agungkan Wikipedia, kaum muda sudah menjelajahi literatur terbaru di kampus Google.
Saat orang tua berpikir kuliah di fakultas tradisional (hukum, ekonomi, kedokteran), generasi baru mengeksploitasi ilmu masa depan (TI kreatif, manajemen ketel cerdas, atau perdapuran kreatif). Cita-citanya menjadi koki, perancang busana, atau profesi independen lain. Ketika geologiman generasi kertas menambang di perut bumi, mereka merancang robot-robot raksasa untuk menambang di meteor. Bila eksekutif tua rindu diterima di Harvard, generasi baru pilih The Culinary Institute of America.

Bahasa dan Fisika
Sulit bagi generasi kertas menerima pendidikan yang integratif. Bagi kami, fisika dan bahasa adalah dua subyek terpisah, beda guru dan keahlian. Satu otak kiri, satunya otak kanan. Kita mengerti karena dibesarkan dalam rancang belajar elemen, bukan integratif. Dengan cara lama itu, bingkai berpikir kita bahasa diajarkan sarjana sastra, fisika diajarkan orang MIPA. Dari model sekolah itu wajar kebanyakan aktuaris kurang senyum, ilmunya sangat serius, matematika. Namun, saat meluncurkan program MM Aktuaria minggu lalu, saya bertemu direktur aktuaria sebuah perusahaan asuransi lulusan Kanada yang punya hobi melukis dan mudah senyum. Mengapa di sini orang pintar susah senyum?
Sewaktu mengambil program doktor, saya menyaksikan Gary Stanley Becker (Nobelis Ekonomi, 1992) menurunkan rumus matematika Teori Ekonomi Kawin-Cerai dengan bahasa yang indah. Mendengarkan kuliahnya, saya bisa melihat dengan jelas mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa membuat keluarga-keluarga Indonesia berevolusi menjadi orangtua tunggal.
Rendahnya komunikasi dan pengambilan putusan dalam pen- didikan dasar jelas akan membu- at generasi baru kesulitan meraih pintu masa depannya. Di Jepang, seorang kandidat doktor asal Indonesia digugurkan komite penguji bukan karena kurang pandai, melainkan buruk bahasanya. Ia hanya pakai bahasa jari dengan kalimat ”from this, and then this …, this…, this…, and proof”. Waktu saya tanya, para penguji berkata, ”Sahabatku, tanpa bahasa yang baik, orang ini tak bisa ke mana-mana. Ia harus belajar berbahasa kembali.”
Tanpa kemampuan integratif, kemampuan kuantitatif, anak-anak pintar Indonesia tak akan mencapai impiannya. Jadi, kurikulum mutlak harus diperbaiki. Jangan hanya ngomel atau saling menyalahkan. Ini saat mengawal perubahan. Namun, catatan saya, Indonesia butuh life skills, yakni keterampilan melihat multiperspektif untuk menjaga persatuan dalam keberagaman, assertiveness untuk buang sifat agresif, dan asal omong dalam berdemokrasi. Indonesia butuh mental yang tumbuh, jiwa positif memulai cara-cara baru, keterampilan berpikir kritis melawan mitos, dan metode pengajaran yang menyemangati, bukan budaya menghukum dan bikin bingung.
Inilah saat guru dan orangtua berubah. Dimulai dari kesadaran, dunia baru beda dengan dunia kita. Cara berpikir kita harus bisa mengawal anak-anak jadi pemenang di akhir abad XXI dengan rentang usia jauh lebih panjang.

Rhenald Kasali  ;  
Guru Besar FE UI
KOMPAS, 07 Februari 2013

Selengkapnya.. »»  

Ilmu Hansip Menembak RSBI


Di era keamanan rakyat (kamra) kita pernah mengenal pentingnya hansip. Meski sekarang anakanak muda lebih bergengsi berpakaian biru-putih dengan menjadi satpam, kadang di berbagai acara komedi kita masih sering melihat guyonan tentang hansip yang berseragam hijau, berdiri tak sesigap polisi, tanpa senjata, agak kedodoran, gigi tidak rata, tetapi di kampung masih sangat dihormati.

 Di kampung saya, hansip menjadi alat bagi ketua RT untuk menjaga keamanan, mengatur lalu lintas dan parkir saat hajatan. Pada masanya, pernah muncul wacana untuk mempersenjatai hansip. Artinya mereka juga diberi bedil sehingga bisa tampil segagah tentara. Gagasan itu tentu saja ditolak. Bukan apa-apa, pengalaman pahit masyarakat menyaksikan hansip menembak sungguh mengerikan. Hansip yang kurang terlatih dalam memegang senjata bisa salah tembak. Kita masih ingat joke-nya, “Tembak kaki kena kepala, mati deh.”

Menembak Ketidakadilan

 Kita tentu tak bisa mengatasi masalah pendidikan dengan ilmu hansip, seberapa pun panasnya hati kita melihat ketidakadilan. Kalau kita hanya ingin melumpuhkan penjahat, jangan tembak kepalanya, melainkan tembaklah kakinya. Anda tentu setuju. Tapi kalau hati panas dan tangan tak terlatih karena sudah uzur atau parkinson, orang tua sebijak apa pun bisa seperti hansip yang tak terlatih, salah sasaran.

 Maksud hati memberantas ketidakadilan, yang terkena musibah justru kalangan miskin yang butuh pendidikan berkualitas internasional. Mari kita telisik keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan gugatan masyarakat terhadap Pasal 50 ayat 3 Undang-undang (UU) No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Pasal ini telah menjadi dasar hukum penyelenggaraan 1.300-an sekolah berlabel rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI).

 Dengan putusan MK ini, berarti status RSBI harus dihapus dan penyelenggaraan satuan pendidikan berkurikulum internasional (maksudnya dalam sekolah negeri, tentunya) juga tak lagi diperbolehkan. Tentu saja RSBI yang dimaksud adalah sekolah-sekolah menengah, bukan universitas. Walaupun kalau ada orang yang jahil, bisa saja objek gugatan diperluas hingga ke perguruan tinggi.

 Padahal, hampir semua kampus universitas negeri membuka program studi internasional dengan uang kuliah yang lebih mahal dan tentu saja fasilitas yang berbeda dengan mahasiswa bersubsidi. Ini juga suatu ketidakadilan bukan? Bahasa yang dipakai juga bahasa Inggris. Apakah ini tidak melanggar Sumpah Pemuda? Tak dapat dimungkiri,munculnya sekolah-sekolah internasional dengan fasilitas yang jauh lebih baik dari sekolahsekolah biasa tersebut telah menimbulkan rasa ketidakadilan.

 Apalagi bila ini sekolah negeri yang dibiayai negara. Dari pengamatan di lapangan dan dari berbagai pemberitaan kita mendengar yang disebut SBI atau RSBI adalah sekolah yang mendapatkan fasilitas pembelajaran dengan alat bantu modern seperti LCD, ruangan ber-AC, notebook untuk setiap siswa dan jaringan WiFi. Bukankah ini sudah menjadi tuntutan zaman?

 Lalu bahasa pengantarnya gabungan Indonesia dan Inggris dengan kurikulum berorientasi internasional yang kalau dimengerti, harusnya beban siswa menjadi lebih ringan, lebih mendalam dan menyenangkan. Lalu karena diberi anggaran lebih besar dan lebih fleksibel menarik sumbangan, kualitas guru harusnya bisa lebih baik. Tidak adilnya, tidak merata dan mahal, membebani masyarakat.

 Bagaimana sekolah yang berstatus non-RSBI? Anda sudah tahulah, persis seperti sekolah yang Anda jalankan di masa lalu. Beda sekolah pasti beda iklimnya. Ada sekolah yang sudahpunya laboratorium lengkap, tapi notebook tidak dipakai. Bahasa pengantarnya hanya bahasa Indonesia dan kurikulumnya, apa lagi kalau bukan hafalan dengan subjek yang banyak sekali, antara 18–23.

 Berat! Tapi karena puluhan tahun dijalankan seperti itu, tentu saja orang tua, guru, dan murid sudah kebal.Paling orang tua baru ribut kalau sekolahnya digusur atap gedungnya mau ambruk. Sekolah hanya menjadi berbeda karena lokasinya. Makin jauh dari kantor gubernur atau wali kota atau makin jauh dari pusat, makin banyak orang miskinnya, makin buruk fasilitasnya.

 Sekarang, belum lagi yang buruk tuntas diperbaiki, yang bagus sudah dibuat lebih bagus lagi, menjadi rintisan internasional. Apa ini tidak salah? Bukankah ini suatu ketidakadilan? Maka bersuaralah para pengamat pendidikan.Di surat kabar saya membaca umpatan para ahli pendidikan bahwa RSBI telah menciptakan sistem kasta sehingga bertentangan dengan konstitusi. Makin dirasa tidak adil,makin disorot dan dihujat sampai diperintahkan MK untuk dibubarkan. Selesaikah?

Negeri Multisegmen

 alam suatu sistem perekonomian, setiap kali kita bicara keadilan, kita bicara tentang kelas sosial. Sudah jelas,sesuatu yang lebih mahal, bila diserahkan melalui mekanisme pasar, hanya mampu dibeli kalangan menengah atas. Seperti duduk di bangku pesawat terbang. Jelaslah siapa yang naik dari terminal 1 Bandara Cengkareng (non-Garuda) dan siapa yang berangkat dari terminal 2 (Garuda Indonesia).

 Demikian pula,letak kursi menentukan kemampuan membayar, semakin ke depan semakin mahal dan mendapat servis lebih baik.Tentu tidak sesederhana itu, tetapi begitulah umumnya. Demikian juga dalam persekolahan. Celakanya banyak orang yang belum paham bahwa kita hidup dalam multisegment society (yang tak bisa disederhanakan jadi hanya kelas sosial A, B, dan C belaka).

 Sementara itu dalam banyak policy kita selalu mengacu pada single segment society seperti Amerika, Jepang, atau Australia. Di negara-negara industri itu,mereka hanya punya satu kelas, yaitu kelas menengah. Sementara kita punya kelas mulai dari penghuni gubuk derita, rumah kontrakan, apartemen sewa sederhana, penghuni rumah mertua, anak kos, penghuni kampung kumuh, perumnas, rumah dinas, pemilik apartemen mewah, anak Menteng, sampai global citizen yang seminggu sekali pulang ke Singapura.

 Sekarang, model persekolahan mana yang mau dipakai? Gubuk derita atau global citizen? Ada kesamaan antara pejabat-pejabat Indonesia dengan pejabat-pejabat di Negara-negara industri, yaitu samasama naik mobil yang disetir sopir negara.Perbedaannya, apa yang dimakan pejabat juga bisa dibeli sopir dan ketika pulang, sopir dari negara-negara itu bisa kembali pulang menyetir mobil pribadi ke rumah yang sama besarnya dengan rumah pejabat yang disopirinya. Itulah single segment society.

 Beda benar dengan pembantu atau sopir di sini. Kita tinggal dalam sebuah multi-segment society, berlapis-lapis dengan rasa keadilan yang tidak sama. Menjadi pertanyaan, dalam setiap kasus ketidakadilan seperti ini, mana yang harus kita pilih: hidup dalam dunia lama yang konvensional (hapuskan yang lebih baik) atau sebaliknya hidup dalam dunia baru (hapuskan yang buruk)?

 Kelihatannya para pemikir yang emosional lebih memilih tinggal dalam dunia lama yang konvensional, bukan mengambil keputusan untuk mengupgrade diri. Lebih spesifik lagi, tutup saja yang internasional, bukan sebaliknya, upgrade yang kelas ekonomi ke kelas eksekutif dengan fasilitas internasional dan bebaskan biayanya. Kita seperti tengah memiliki kesenangan baru, yaitu senang mengutuk pembaruan karena muak dengan ketidakadilan.

 Dengan kata lain, kita tengah menerapkan ilmu hansip dari pada belajar management strategic yang andal. Hasilnya, ibarat “membidik kaki, tetapi yang tertembak justru kepala”. Saya sendiri lebih senang membuat pemerintah sulit ketimbang membuat rakyat menderita. Pemerintah jangan dibuat bekerja mudah seperti membiarkan sistem pendidikan gratis dalam mutu yang biasa-biasa saja. Paksalah buat yang bermutu tetapi gratis untuk rakyat.

 Buatlah pemerintah lebih sulit dengan memperbaiki mutu, jangan justru menghapus yang bermutu kendati tahapannya masih baru awal. Dan seperti pepatah mengatakan, “Every beginning is difficult. It may look poor and ugly, but you’ll improve it!” Ketika RSBI dihapuskan, tugas pemerintah jelas lebih gampang.

Rhenald Kasali ;  
Ketua Program MM UI
SINDO,  10 Januari 2013


Selengkapnya.. »»  

Kurikulum “Berpikir” 2013


Di banyak negara, saya sering menyaksikan siswa sekolah atau mahasiswa yang aktif berdiskusi dengan guru atau dosennya. Persis seperti yang dulu sering kita lihat dalam iklan margarin pada tahun 1980-an, atau gairah siswa Wellesley College yang kita lihat dalam film Monalisa Smile.

Sewaktu mengajar di University of Illinois, saya kerap berhadapan dengan anak-anak seperti itu. Karena materi yang harus diajarkan begitu banyak, saya menjawab seperti kebiasaan guru di sini. ”Sebentar ya. Biar saya selesaikan dulu.” Namun, anakanak itu tetap tak mau menurunkan tangannya sebelum dilayani berdiskusi.

Belakangan saya diberi tahu bahwa pendidik yang baik harus cekatan melayani diskusi, bukan meringkas isi buku. Seorang guru besar senior mengingatkan, ”Kami bersusah payah mengubah satu generasi, dari TK hingga SLTA, mengubah kebiasaan siswa yang malas berpikir menjadi aktif mengeksplorasi dengan lebih percaya diri.”

Mengapa tradisi seperti itu tidak terjadi di sini? Bahkan di perguruan tinggi semakin banyak dosen mengeluh bahwa anakanak sekarang tidak gemar membaca sehingga tidak bisa diajak berdiskusi.

Dihafal, Bukan Dipikir

Anak-anak kita punya tradisi belajar yang sangat berbeda, yang mengakar sejak taman kanak-kanak. Mata ajaran yang dipelajari jauh lebih banyak, tetapi tidak mendalam. Kalau sulit, rumus yang sangat banyak dibuatkan jembatan keledai atau singkatansingkatan agar mudah dikeluarkan dari otak.

Cara belajar yang demikian berpotensi menghasilkan ”penumpang” ketimbang ”pengemudi”. Karena itu, banyak orang yang lebih senang duduk menunggu, hidup ”menumpang”, ”dituntun”, atau diarahkan ketimbang menjadi pengemudi yang aktif dan dinamis.

Seperti tampak di angkutan umum, penumpang boleh mengantuk, tertidur, terdiam, sibuk sendiri, tak perlu tahu arah jalan, dan praktis kurang berani mengambil risiko. Sementara pengemudi adalah sosok yang sebaliknya. Karena orangtua juga dibesarkan dalam tradisi belajar yang sama, tradisi serupa ada di rumah. Dengan jumlah mata ajaran yang semakin hari semakin banyak, jumlah yang dihafal siswa di sini juga semakin memberatkan.

Perhatikanlah bagaimana siswa berikut ini belajar. Siswa kelas I SD yang ibunya bekerja mengucapkan kalimat ini: ”Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari ayah-ibu dan anak-anak. Ayah ke kantor mencari nafkah, ibu merawat anak-anak di rumah.” Anak itu sempat protes karena ibunyalah yang bekerja, tetapi ibu guru menyatakan ”Dihafal saja karena bukunya berkata demikian”. Ibu di rumah berkata serupa: ”Kalau engkau mau naik kelas, dihafal saja.”

Daya kritis tidak diberi ruang, pertanyaan-pertanyaan penting yang diperlukan manusia untuk bernalar dimatikan sedari muda. Sementara mata ajar kesenian yang diadakan untuk merangsang daya kreasi juga distandarkan dan dihafal. Seperti yang dialami anak-anak yang menggambar pemandangan: gunung dua berjajar, matahari di tengah, dan seterusnya.

Hafalan diperlukan untuk mengikuti ujian nasional dan agar diterima di perguruan tinggi atau menjadi pegawai negeri sipil. Bahkan untuk diterima di jurusan seni rupa sebuah perguruan tinggi negeri terkenal, ujian masuknya juga ujian menghafal, bukan portofolio karyakarya calon mahasiswa.

Demikianlah penumpang, sekolahnya menghafal tetapi tidak berani berbuat, apalagi menyatakan identitas diri atau berpikir. Ini ditambah lagi tradisi membesarkan anak yang sejak lahir tubuh dan kedua kaki-tangannya dibedong lalu digendong. Sekalipun sudah bisa berjalan, kita selalu dituntun orang dewasa. Beda benar dengan tradisi belajar di negara-negara yang mendorong manusianya berpikir dan bertindak. Di negeri penumpang, wacana berlimpah, gagasan hebat mudah ditemui di televisi, tetapi sedikit sekali kaum elite yang bergerak.

Kurikulum Berpikir

Gagasan merampingkan jumlah mata ajaran tentu saja tak boleh diikuti oleh rasa takut yang berlebihan di kalangan para pendidik. Sebab, sebagaimana layaknya setiap perubahan, maka tak pernah ada perubahan yang langsung berakhir dengan kesempurnaan. Namun, satu hal yang pasti, seperti orang yang berfoto bersama, maka setiap orang akan selalu melihat pada wajahnya masing-masing. Ia akan mengatakan fotonya bagus, semata-mata kalau dirinya tampak bagus.

Bagi saya perubahan kurikulum yang ramai diperbincangkan seharusnya dapat dilihat pada aspek lebih luas daripada sekadar merampingkan mata ajaran. Perubahan ini seharusnya dapat dijadikan momentum untuk melakukan transformasi diri manusia Indonesia dari tradisi mindset ”penumpang” menjadi cara berpikir ”pengemudi”. Transformasi ini berdampak sangat luas yang sudah pasti membutuhkan penyempurnaan bertahap hingga ke tingkat pendidikan tinggi.

Riset-riset terbaru menunjukkan, betapa banyak cara kita belajar sudah harus diubah. Daniel Coyle (2010), misalnya, menunjukkan kemajuan yang dicapai dalam neuroscience yang menemukan bahwa manusia cerdas tidak hanya dibentuk oleh memori otak, tetapi juga memori otot (myelin ). Sementara Carol Dweck dan Lisa Blackwell (2011) menemukan bahwa anak-anak yang secara akademik dianggap cerdas berpotensi menyandang mindset tetap sehingga kecakapannya untuk berkembang menjadi terhambat.

Keduanya menunjukkan cara- cara baru membentuk mental pengemudi yang sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan generasi baru di abad ke-21. Jadi, terimalah perubahan dan persiapkan lebih baik.

Rhenald Kasali ; 
Guru Besar FE-UI
KOMPAS, 28 Desember 2012


Selengkapnya.. »»  

Generasi Bingung Bahasa


Seorang presenter radio terkenal, juga guru komunikasi yang andal, datang ke Rumah Perubahan beberapa hari lalu. Di sekolah komunikasinya yang banyak diminati kaum muda, juga di program radionya, ia menemukan semakin banyak anak muda yang bingung berbahasa.

 Ingin berbahasa Inggris tapi kurang pas.Membuka percakapan dengan guru dalam bahasa Inggris tapi patah-patah. Bingung memilih kata, apalagi pengucapannya. Bunyinya tak jelas. Namun,begitu dilayani dalam bahasa Inggris, dijawab pakai bahasa Indonesia yang juga tak jelas. Mungkin masih lebih jelas bicara dengan saudara kita di belahan timur Indonesia yang bahasanya makin singkat.

 Seperti “sapi nonton bola” yang berarti “saya pergi nonton bola” atau di paling barat saat orang Aceh mengatakan air kelapa dengan “ie u”. Tapi di mana pun mereka bersekolah, masalah yang dihadapi tetap sama: anak-anak kita sungguh lemah mengungkapkan gagasan tulisan dalam bahasa Indonesia. Sehingga berapa pun tingginya IPK akademis mereka, tetap saja sulit siap pakai untuk bekerja karena tak bisa diminta membuat laporan, proposal, atau bahkan minute of meeting sekalipun.

 Bahkan banyak calon doktor yang gugur pada tahap penulisan kesimpulan disertasinya. Selain bingung bahasa juga muncul generasi alay yang gemar menggabungkan huruf dengan angka dan simbol. Meski menyulitkan, orang tuanya ternyata ikutikutan alay. Beruntung masalah bahasa belum menimbulkan perpecahan bangsa.

 Tapi di Filipina, keretakan hampir terjadi karena bahasa anak muda yang dikenal dengan istilah jejemon cukup membuat Menaker-nya khawatir keunggulan daya saing tenaga kerja Filipina di dunia internasional akan terganggu. Pasalnya mereka hanya saling mengerti di antara mereka, sedangkan bahasa Inggris tak lagi dipahami.

 Menjelang Hari Sumpah Pemuda akhir pekan ini, ada baiknya kita merenungkan kembali sumpah para pemuda pada tahun 1928 yang menyadari pentingnya bahasa pemersatu. Bahasa Indonesia tengah mengalami ujian yang berat, baik melalui gempuran budaya pop, bahasa asing maupun sikap mental orang kalah yang membentuk mentalitas pecundang. Namun lebih dari itu, masih adakah tokoh yang mau mengawal persatuan melalui bahasa yang indah ini?

Menghilangnya Ahli Bahasa

 Siapakah ahli bahasa Indonesia yang sekarang dapat menjadi anutan kaum muda? Bila dulu ada mendiang Anton Moeliono dan Yus Badudu, mungkin sekarang kita sulit mencari anutannya. Padahal nama-nama mereka di era TVRI dulu tidak kalah populer dengan Rhoma Irama. Namun nama-nama ahli bahasa sekarang tenggelam,tak bisa mengimbangi ahli ekonomi dan politik,apalagi musisi dangdut atau stand up commedian.

 Untuk mengambil hati kaum muda, bahasa Indonesia juga butuh role model, bahkan “selebritas” yang tak kalah persuasif. Namun apakah benar pemerintah menaruh perhatian dalam membina bahasa persatuan ini? Bila untuk sila pertama Pancasila saja negara rela mengucurkan dana besar mencetak sarjana-sarjana agama, berapa besar negara mengucurkan dana untuk mencetak sarjana bahasanya sendiri?

 Saya bahkan khawatir,pelajaran bahasa Indonesia di sekolah- sekolah tidak lagi diberikan oleh guru-guru hebat seperti yang pernah dialami generasi saya. Padahal kini Direktorat Kebudayaan sudah berada di bawah kendali Kementerian Pendidikan. Bahkan wakil menterinya sudah ada. Yang belum ada adalah insentif untuk menumbuhkan kecintaan orang muda dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.Juga belum terlihat studi bahasa sebagai studi yang menarik.

 Masa depan lulusan ilmu bahasa, apalagi bahasa Indonesia, belum dipikirkan dengan baik. Bidang studi ini praktis hanya bisa menerima mahasiswa yang paling sedikit, lalu fasilitasnya juga jauh dari memadai. Saya kira beasiswa yang tersedia juga tidak banyak.Kalaupun ada,ia kalah populer dengan ilmu komputer yang sedang seksi. Tidak bisakah dilakukan intervensi yang lebih menarik? Yang jelas,ilmu bahasa,terlebih bahasa persatuan, memerlukan revitalisasi yang amat serius.

 Ilmuwan bahasa juga perlu menjelajahi bahkan mengawinkan ilmunya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya untuk mengembalikan kejayaan bahasa persatuan. Bagi saya bahasa adalah pemandu karakter bangsa, pemersatu sekaligus pembentuk masa depan. Hanya dengan bahasa yang baik, negeri ini mampu menghasilkan politikus-politikus yang bijak atau ilmuwan kelas dunia.

  Bahasa Pecundang

 Tentu saja kerancuan bahasa bukanlah semata-mata masalah bahasa dengan segala elemen yang dipelajari ilmuwan bahasa.Bahasa adalah cerminan watak dan merupakan ungkapan pikiran bangsa. Setiap kali memasuki era baru, tak dapat pula dimungkiri suatu bangsa pasti mengalami kegalauan. Di era demokrasi kita menyaksikan kegalauankegalauan itu dengan manusiamanusia yang beralih dari kepribadian yang terbelenggu dan pasif menjadi agresif dan lepas kendali.

 Kita belum benar-benar memiliki pemimpin dengan kualitas bahasa yang mampu menghormati dirinya sendiri sekaligus respek terhadap orang lain. Manusia assertiveyang harus kita bangun masih jauh panggang dari api. Maka setiap kali menyaksikan tayangan-tayangan demokrasi di televisi yang diramaikan politisi, pengamat, LSM, dan akademisi (apalagi kalau ada pengacara), masyarakat hanya bisa merasakan kegalauan dan bingung bahasa.

 Bahasa yang mereka gunakan bukanlah bahasa bangsa yang berbahagia, melainkan bahasa campuran antara kepentingan ekonomi, transaksional, kekuasaan, dan ketidakpuasan. Bahasa kemenangan yang menimbulkan rasa kebahagiaan tenggelam di antara prahara politik uang dan kekuasaan. Yang melahirkan bahasa kaum pecundang. Ya itulah bahasa orang-orang kalah yang menurut psikolog Denis Waitley sebagai ungkapan cara berpikir orang-orang yang akan bermuara pada kekalahan.

 Kaum pecundang akan selalu menyuarakan ketidakmampuan, ketiadaan sumber daya dan permodalan (constraint, not opportunity), rasa sakit yang ditonjolkan (“the pain”, not “the gain”), alasanalasan yang dibuat (bukan solusi), ancaman dan konflik (bukan persaudaraan dan kepedulian), terkurung oleh masa lalu (bukan melihat ke depan), menyerang atau menyalahkan orang lain (bukan menunjuk dirinya sendiri sebagai sumber masalah), tahu sedikit tetapi bicaranya banyak (bukan banyak mendengar meski sudah banyak tahu),dan seterusnya.

 Makanya kita lebih banyak memiliki provokator daripada pekerja sosial, lebih banyak koruptor yang tak tahu malu ketimbang pemberi kurban yang ikhlas. Kita lebih banyak melahirkan “motivator” ketimbang wirausaha sungguhan karena sudah merasa serbamengerti meski usahanya belum seberapa besar. Kita lebih banyak menemukan orang yang ingin jalan pintas dengan jurus sukses dua menit ketimbang kerja keras atau lebih memilih “cara kepepet” daripada melakukan “persiapan” yang panjang.

 Bahasa adalah soal rasa,dia berinteraksi dengan aneka motivasi,kejadian, dan tuntutan zaman. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang mungkin jauh lebih penting ketimbang armada nasional, infrastruktur fisik, atau alatalat persatuan lainnya. Yang jelas, daya tariknya harus diangkat kembali setinggi bintangbintang di langit

Rhenald Kasali ;
Ketua Program MM Universitas Indonesia
SINDO, 25 Oktober 2012



Selengkapnya.. »»